Video Prediksi Chelsea Vs Manchester City

Bagaimana prediksi pertandingan Premier League antara Chelsea dan Manchester City? Saya membahasnya dengan fans Manchester United!

Posted in menbal | Tagged , , , | Leave a comment

Jangan Pernah Takut Memelihara Mimpi

Perhaps it is not true that “a man becomes what he dreams”; but if he does not dream, what kind of a man is he? – Fausto Cercignani

Suatu malam di Terminal Lebak Bulus sekitar tahun 2001 atau 2002. Ketika itu, saya akan naik bus menuju kota kelahiran saya, Bandung.

Tergopoh-gopoh, saya memasuki terminal lantaran waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Khawatir tak kebagian bus, sampai-sampai saya selip lidah saat bertanya bus menuju Bandung dan Kampung Rambutan kepada penjaga peron.

Syahdan, akhirnya saya duduk di bangku depan kiri. Di sebelah saya, ada seorang pria keturunan yang tampak bawel bertanya kepada kondektur apakah bus akan jalan atau tidak.

Karena jumlah penumpang minimal sudah terpenuhi, bus pun keluar dari terminal dan menuju Bandung. Ketika itu, belum ada Tol Cipularangsehingga bus akan melewati Tol Cikampek lalu lewat jalan biasa melalui Purwakarta.

Dalam perjalanan, saya yang biasanya tertidur ketika kondektur sudah menagih tiket, terpaksa menahan mata. Pria di sebelah saya – yang sampai saat ini masih lupa namanya – terus mengajak saya mengobrol.

Dia bercerita tentang pekerjaan dirinya. Awalnya, dia seorang pekerja kantoran dan menempati posisi bergengsi di jajaran manajerial.

Ketika itu, saudara kandungnya – yang saya juga lupa namanya karena tak bisa googling lewat ponsel berbasis symbian – bahkan duduk di jajaran eksekutif bank besar nasional.

Akan tetapi, teman seperjalanan saya itu mengaku telah mundur dari perusahaannya. Dia tengah merintis usaha sendiri, sebuah usaha yang saya mendengarnya saja masih asing di telinga.

Bagi seorang mahasiswa ekonomi seperti saya, pernyataan dia saat itu mengejutkan. Bagaimanapun, dia sudah bisa nyaman mendapatkan beragam fasilitas tetapi memilih mundur sehingga untuk ke Bandung saja harus pakai kendaraan umum.

“Saya punya mimpi untuk bisa bekerja sendiri, tidak bekerja untuk orang lain tetapi bisa memberi nafkah bagi orang lain,” ucap dia saat itu. “Ingat Jalu, if you never dream it, you never reach it,” kata dia menegaskan.

Ucapan itu melekat bagi saya. Karena selain mengena, dia juga mentraktir saya mie instan ketika bus beristirahat di wilayah Sadang, hitung-hitung penghematan bagi mahasiswa. Kapan lagi dapat makan dan ilmu gratis berbarengan?

Saya memang tidak atau belum bisa menjadi pengusaha seperti dia. Akan tetapi, ucapan dia untuk terus menjaga mimpi selalu diingat.

Saat kecil, mimpi saya adalah bisa meliput Piala Dunia. Hal ini dipengaruhi kegemaran saya melahap segala berita seputar Piala Dunia 1990.

Mimpi itu selalu saya jaga. Akhirnya, walaupun berstatus lulusan Fakultas Ekonomi, saya memilih mengikuti mimpi saya untuk menjadi wartawan olahraga pada 2004.

Dua tahun berselang, saya pun mewujudkan mimpi masa kecil saya ketika ditugaskan meliput Piala Dunia 2006 di Jerman.

Kebetulan? “There are no coincidences in this world,” ujar Master Oogway di film “Kung Fu Panda” pertama.

Wujudkan mimpi

Sepuluh tahun berlalu sejak Piala Dunia 2006. Saya kembali menjalani perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang ke Benua Biru. Kali ini, saya terbang bersama sejumlah fans Liverpool asal Bekasi, Jakarta, Jember, dan Surabaya.

Dalam perjalanan antara Jakarta dan Istanbul – tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Inggris, beberapa dari kami membunuh waktu dengan menonton film yang tersedia, jika tidak tidur tentu saja.

Di kursi depan kiri saya, ada Hendra Erdiansyah asal Jember. Saya tertarik ketika dia memilih film kartun untuk ditonton. Tak terlihat jelas judulnya karena mata saya silindris, tetapi film tersebut berkisah tentang Tom dan Jerry, kucing dan tikus yang merupakan teman sekaligus musuh.

Saya pun mencari film tersebut dari kursi saya dan mendapatkannya. “Tom and Jerry’s Giant Adventure”, begitu judul film tersebut.

Film animasi itu bercerita tentang anak yatim bernama Jack. Ibu Jack tengah terlilit utang. Rumah dan tempat hiburan milik mereka yang dibangun sang ayah terancam diambil rentenir.

Untuk bisa membayar utang, Jack mencoba menjual sapi, satu-satunya barang berharga yang valuable. Ibunya sudah patah arang karena tak mungkin bisa menutupi utang dengan hanya menjual sapi.

Dreams come true if you believe. Ingat ucapan almarhum ayah itu, Bu,” ujar Jack menenangkan ibunya. Sang ibu pun merasa reugreug lega.

Saat hendak menjualnya, sapi Jack ditawar oleh seorang petani. Namun, sapi itu coba dibeli dengan hanya segenggam kacang.

Jack kesal, tetapi petani lantas mengucapkan kata yang sama seperti ucapan almarhum ayahnya. Dia pun berbalik dan mau menukar sapinya.

Kacang itu ternyata kacang ajaib. Jadilah petualangan Tom, Jerry, dan Jack mirip cerita “Jack and Beanstalk”. Mereka menuju ke awan, melawan raksasa, dan mendapatkan telur emas. Dia dan ibunya pun bisa membayar utang. Taman hiburan yang dibangun ayah Jack juga kembali beroperasi.

“Mimpi hanya akan terwujud apabila kamu memercayainya,” ucap ayah Jack. Kepercayaan itu pun dimiliki tujuh orang yang berangkat ke Liverpool bersama saya.

Sebagai suporter Liverpool, mereka tentu mengidamkan untuk bisa menonton langsung tim kesayangannya di Stadion Anfield. Orang lain mungkin menilai mimpi mereka itu hanyalah angan-angan. Meski demikian, Hendra dkk tidak pernah mengubur mimpinya itu.

Seperti kata Raja Tua di novel “Sang Alkemis” karya Paulo Coelho, “Ketika seseorang keinginan kuat, seluruh semesta akan berusaha untuk mewujudkannya,” ucap dia.

Mimpi tujuh suporter Liverpool itu pun terwujud. Perjuangan mereka melalui futsal akhirnya berbuah hal yang diimpi-impikan. Mereka bisa menyaksikan langsung The Reds di tribune Stadion Anfield dan bertemu sejumlah legenda klub.

“Ini pengalaman luar biasa bagi saya. Kali pertama naik pesawat dan terbang ke luar negeri, bisa langsung menyaksikan Liverpoolbertanding,” ujar Achmad Fachri. salah satu anggota tim asal Jakarta.

When you have dream, go and get with the power of prayer. Alhamdulillah i’m in here, in the place that always there in my dreams,” tulis Setio Pramono, peserta asal Bekasi di akun Instagram pribadinya, saat mengunggah foto memegang tulisan “This is Anfield” di lorong menuju lapangan.

Perasaan mereka itu sama seperti yang saya rasakan…

Bermula dari kegagalan

Ketika ditanya kapan pertama kali menyukai Liverpool, saya akan menjawab sejak Sabtu, 14 Mei 1988.

Pada tanggal itu, saya pertama kali peduli dengan Liverpool. Namun, bukan karena The Reds pada tanggal tersebut meraih kejayaan. Justru sebaliknya, saat itu, Liverpool kalah 0-1 dari Wimbledon pada final Piala FA di Stadion Wembley.

Saya menyaksikan pertandingan tersebut melalui TVRI. Satu momen yang paling saya diingat adalah ketika Dave Beasant, kiper Wimbledon, menggagalkan penalti John Aldridge, striker Liverpool.

Kecekatan Beasant membuat saya kagum. Namun, kegagalan Aldridge itu memunculkan rasa empati saya kepada dia dan klub berseragam merah yang dibelanya. Sikap enggak tegaan – yang mungkin diwariskan oleh ibu – itu menjadi dasar saya menyukai sebuah tim.

Seperti halnya saat Persib Bandung kalah dari PSMS Medan pada final Perserikatan 1985 dan Jerman (Barat) dikalahkan Argentina di final Piala Dunia 1986, saya suka Liverpool lantaran kegagalan penalti Aldridge di final Piala FA 1988.

Siapa sangka, 28 tahun berselang, saya bisa bertemu dia tepat sebelum Liverpool bertanding melawan Watford di Anfield, Minggu (8/5/2016).

“Kamulah orang yang membuat saya suka terhadap klub ini,” ucap saya. Kalimat yang sudah saya impikan untuk dibicarakan langsung kepada Aldridge.

Dia terlihat terkejut tetapi juga gembira dengan ucapan saya itu. Saya pun lalu menceritakan rasa empati saya kepada dia saat menyaksikannya lewat layar kaca.

“Jangankan Anda, saya pun sedih dan suka menangis jika melihat kegagalan penalti itu,” ujar Aldridge kepada saya.

Hal apa lagi yang lebih baik selain bisa mewujudkan mimpi dengan bertemu langsung sang causa prima dari awal kecintaan saya terhadap Liverpool, menyaksikan langsung The Reds bertanding di Anfield, dan bernyanyi “You’ll Never Walk Alone” sebelum pertandingan?

Seperti halnya arti harfiah dari lagu kebangsaan Liverpool itu, kita tak bakal sendirian ketika ingin mewujudkan mimpi. Jadi, jangan takut untuk bermimpi. Seperti kata sang Raja Tua, seluruh semesta akan membantumu untuk mewujudkannya.

#YNWA

Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul yang sama pada 17 Mei 2016.

Posted in menbal | Tagged , | Leave a comment

Terpenting, Bahagiakanlah Orang yang Mencintai dan Mendukung Kita

“I really have no desire to make everyone happy…” – Juergen Klinsmann

Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah mencoba untuk menyenangkan semua pihak. Googling saja dengan keyword “we can’t make everyone happy”, maka akan muncul sejumlah quotation menarik terkait hal tersebut.

Salah satunya adalah, “I don’t know the key to success but the key to failure is trying to please everybody.”

Prinsip “ingin membuat semua orang bahagia” itu tampaknya sempat dimiliki oleh Claudio Ranieri. Ketika masih melatih Chelsea, Ranieri kerap melakukan perombakan formasi dan susunan pemain.

Tujuan dia cuma satu. Melatih di klub dengan skuad multinasional dengan banyak ego bersatu, Ranieri ingin semua pemain Chelseasenang karena mendapatkan kesempatan bermain yang adil – ingat adil bukan berarti sama dalam jumlah.

Julukan The Tinkerman muncul karena kebiasaan Ranieri itu. Sampai-sampai, istilah tersebut masuk salah satu kamus di Inggris untuk merujuk pada pelatih yang suka menggonta-ganti formasi dan susunan pemain.

“Saya senang ketika suporter senang. Ketika pemain senang, pemilik klub pun akan serasa berada di bulan,” ujar Ranieri ketika masih melatih Chelsea.

Akan tetapi, keinginan Ranieri untuk membahagiakan semua pemain itu tak menyenangkan bagi Roman Abramovich, pemilik Chelsea. Finis sebagai peringkat kedua dianggap tak cukup bagi Chelsea dan Abramovich yang telah mengeluarkan dana besar untuk transfer.

Abramovich pun memecat Ranieri. Taipan asal Rusia itu mengatakan Ranieri takkan pernah menjadi juara liga. Julukan Mr. Runner-up dianggap sebagai tabu sepanjang kiprah Ranieri sebagai pelatih.

Tak ada lagi The Tinkerman

Tabu itu akhirnya tercabut pada Senin, 2 Mei 2016. Leicester City yang dilatih Ranieri berhasil membalikkan prediksi banyak pengamat dan pencinta sepak bola dengan menjuarai Premier League, kasta teratas Liga Inggris.

Ada kelegaan dari Ranieri dengan keberhasilan Leicester menjadi juara liga. “Ada perasaan luar biasa. Seperti orang lain di sini, saya juga ikut merasakan kebahagiaan,” ucap dia.

Julukan The Tinkerman pun mulai dilupakan dan kini malah ditambahkan huruf “H” menjadi The Thinkerman. Ya, Ranieri kini lebih bermain analisis ketimbang berupaya membuat semua pemain di timnya bahagia.

Hal itu dilihat dari pemilihan taktik dan pemain Leicester musim ini. Berdasar Whoscored, Ranieri memasang formasi 4-4-2 dalam 32 dari 36 pertandingan Premier League musim ini.

Dari jumlah pertandingan sebanyak itu, hanya 16 pemain yang mendapatkan kesempatan bermain lebih dari 10 pertandingan.

Bandingkan dengan pemilihan pemain Ranieri pada 2003-2004, musim terakhirnya di Chelsea. Ketika itu, ada 21 pemain dengan kesempatan bermain lebih dari 10 kali, 17 di antaranya malah bermain lebih dari 20 kali.

Ranieri tentu belajar dari kegagalan dia pada masa lalu. Alih-alih ingin menyenangkan semua pemain, dia lebih memilih “memaksa” para pemain utamanya untuk selalu bekerja keras dan dimainkan sebisa mungkin.

Dari segi taktik, Ranieri juga mengesampingkan pola pikir menyenangkan semua orang. Gaya bermain pragmatis dan mengandalkan serangan balik mungkin tidak disukai sebagian besar pencinta sepak bola.

Bayangkan saja, dari 22 pertandingan Premier League yang dimenangi, sebanyak 19 laga di antaranya Leicester kalah dari segi penguasaan bola.

Akan tetapi, kalah dalam hal permainan indah dan penguasaan bola itu menjadi tidak penting dengan hasil akhir yang didapat Leicester.

“It is not the strong one that wins, the one that wins is strong.” – Franz Beckenbauer

Pragmatis tidak haram

Gaya bermain pragmatis memang seolah menjadi hal yang dibenci oleh pencinta sepak bola yang mengedepankan permainan indah.

Publik tentu lebih senang melihat gaya permainan dari kaki ke kaki di Arsenal sejak dilatih oleh Arsene Wenger. Begitu juga dengan permainan tiki-taka ala pelatih Josep Guardiola, terutama saat menukangi Barcelona.

Puja dan puji pun mengalir terhadap anak-anak asuhan Guardiola. Apalagi, selain bermain indah, mereka pun meraih sejumlah trofi bergengsi, bahkan 6 di antaranya terjadi pada tahun kalender yang sama.

Idealnya memang sepak bola bisa memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Namun, tidak semua orang bisa dibahagiakan pada saat bersamaan. Ketika Barcelona menjadi juara, tentu suporter Real Madridmenjadi pihak yang paling merasakan tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak bisa membahagiakan semua orang. Salah satunya keterbatasan sumber daya. Bukankah tak mungkin kita selalu membantu semua orang yang membutuhkan ketika kita pun punya keterbatasan kemampuan?

Namun, bukan berarti keterbatasan itu menjadi penghalang bagi kita dalam membahagiakan orang lain. Dengan memiliki keterbatasan, kita tentu akan memilih berdasar skala prioritas siapa yang membutuhkan kebahagiaan dari kita.

Seorang kepala rumah tangga, pasti akan lebih mendahulukan keluarga intinya untuk dibahagiakan, baru keluarga besar dan teman-temannya. Seorang pelatih sepak bola, tentu menempatkan suporter yang senantiasa memberi dukungan dalam setiap kesempatan sebagai prioritas utama.

Karena hal itulah, permainan pragmatis muncul. Sadar keterbatasan dengan kemampuan yang dimiliki timnya, seorang pelatih akan mengandalkan segala cara – selama tidak bertentangan dengan law of the game – agar timnya meraih kemenangan.

Ambil contoh Yunani saat menjadi juara Piala Eropa 2004. Otto Rehhagel paham bahwa Angelos Charisteas dkk kalah dari segi kemampuan individu dari skuad tim-tim besar Eropa. Namun, Yunani punya semnangat juang tinggi khas orang-orang Sparta.

Hal itulah yang dimanfaatkan Rehhagel. Dia membangun timnya berdasar pada kekokohan lini pertahanan. Kemampuan menyerang sehebat apa pun, akan selalu bisa diimbangi oleh lini pertahanan yang memiliki semangat juang tinggi, selalu fokus, dan selalu berupaya meminimalkan kesalahan.

Begitu juga dengan Jose Mourinho pada periode keduanya bersama Chelsea. Saat menjuarai Premier League 2014-2015, permainan The Blues mungkin tidak menarik dilihat karena monoton, pragmatis, dan cenderung “parkir bus” ketika sudah unggul.

Hal yang sama dilakukan Atletico Madrid di bawah Diego Simeone. Bagi sebagian orang, taktik Simeone ketika menghadapi tim besar dianggap “cupu” sehingga membuat pertandingan tidak menarik ditonton.

Akan tetapi, it works. Lihat saja ketika Atletico menyisihkan Bayern Muenchen dengan Guardiola sang dewa permainan indah di kursi pelatih pada semifinal Liga Champions 2015-2016. Bayern selalu lebih mendominasi, tetapi justru Atletico – dengan penguasaan bola sekitar 30 persen – yang bisa melangkah ke final.

“I won’t say we have to win. I won’t put that pressure. But we can’t lose.” – Jose Mourinho

Kebahagiaan suporter

Salahkah Rehhagel, Mourinho, dan Simeone? Tentu tidak. Mereka mengantarkan timnya meraih kemenangan dan kejayaan. Bukankah kemenangan yang memang dicari dari sebuah pertandingan?

Kemenangan itu pun berdampak pada kebahagiaan orang lain. Rakyat Yunani bergembira ketika Charisteas dkk menjadi juara Eropa pada saat negaranya tengah mengalami krisis moneter dan perpecahan.

“Luar biasa sekali apa yang telah dilakukan tim nasional sepak bola Yunani. Kami bisa menyatukan negeri, hal yang sama sekali tak bisa dilakukan para politikus di negara ini,” kata Rehhagel.

Mourinho dan Simeone juga telah memberikan kebahagiaan bagi suporter Chelsea dan Atletico. Hal itu sudah cukup karena memang untuk suporterlah sebuah tim sepak bola berjuang untuk mencari kejayaan.

Perkara ada pihak yang tak suka dengan gaya bermain mereka dalam mencapai kejayaan, itu bukan persoalan bagi Mourinho dan Simeone. Menyenangkan manajemen dan pengurus adalah tugas mereka, bukan membahagiakan pencinta sepak bola kebanyakan.

“You can’t always please everybody but you can do what makes you happy and just hope that those around you will be happy for you.” – Robert Tew

Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul yang sama pada 4 Mei 2016.

Posted in menbal | Tagged , , , , | Leave a comment

Susah Diatur Bikin Belanda Lacur

ika berbicara soal sepak bola, nama Belanda tak boleh dikesampingkan. Dari negara tersebut, lahir skema filosofi permainan yang kemudian melegenda bernama totaal voetbal.

Totaal voetbal atau total football dalam bahasa Inggris merupakan sebuah taktik yang meminta seluruh pemain di lapangan terlibat dalam permainan dan dituntut untuk bisa mengisi peran di posisi mana pun (kecuali kiper tentu saja).

Dengan filosofi permainan seperti itu, setiap pemain ruang kosong yang ditinggalkan pemain ketika menyerang atau bertahan, akan dilapis oleh pemain dari posisi lain. Semua bersifat mengalir, sehingga siapa pun bisa berperan sebagai penyerang, gelandang, maupun bek.

Istilah totaal voetbal dikenal ketika Rinus Michels bersama Ajax Amsterdam dan Belanda memukau pencinta sepak bola dunia pada 1970-an. Jika Michels adalah penggubahnya, Johan Cruyff menjadi dirigen dari orkestra totaal voetbal itu.

Totaal voetbal bisa jadi tercipta lantaran prinsip egaliter mengakar di masyarakat Belanda. Egalitarianisme merupakan pandangan yang memandang semua orang sederajat. Tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya.

Semua punya hak dan kewajiban sama tak peduli status atau babat, bebet, bobot-nya. Setiap orang diperlakukan sama.

Filosofi permainan indah ini juga amat didukung oleh talenta-talenta andal yang ditelurkan akademi-akademi sepak bola di Negeri Tulip. Bayangkan saja, Belanda hanya dihuni 17 juta jiwa. Namun, berdasar catatan FIFA, terdapat 1,139 juta pemain terdaftar.

Itu berarti, 6,7 persen dari populasi Belanda merupakan pesepak bola, profesional maupun amatir.

Rasio itu sangat tinggi dibandingkan negara sepak bola lain. Ambil contoh Inggris yang mengklaim negeri kelahiran sepak bola. Di negara tersebut terdapat 1,49 juta pesepak bola terdaftar. Namun, jumlah itu hanya 2,75 persen dari total populasi.

Maka tak heran, dengan didukung kurikulum yang baik di akademi-akademi sepak bola, Belanda tak pernah kekurangan pesepak bola berbakat. Sebut saja Cruyff, Ruud Gullit, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, hingga generasi Arjen Robben, Robin van Persie, dan Memphis Depay hanyalah segelintir pemain hebat asal Negeri Tulip.

Kendati demikian, surplus pemain berbakat itu ternyata tak berbanding lurus dengan prestasi tim nasional Belanda. Prestasi terbaik De Oranje “cuma” juara Piala Eropa 1988. Cukup aneh bukan?

Apa yang salah dengan Belanda? Jika melihat ketersediaan sumber daya, kekeringan prestasi itu merupakan sebuah anomali.

Egaliter

Ada banyak asumsi terkait prestasi miris De Oranje, mulai dari kompetisi domestik yang tak kompetitif hingga friksi yang kerap terjadi di timnas. Hal terakhir ini tak lepas dari egalitarianisme di masyarakat Belanda, dalam hal ini pesepak bola.

Prinsip egaliter itu membuat Belanda kerap kesulitan membuat tim yang kuat. Karena prinsip itu begitu kuat, para pemain menjadi susah diatur. Mereka cenderung bersuara sama vokalnya dengan pelatih. Akibatnya, konflik tak terhindarkan.

“Setelah menjadi juara Piala Eropa 1988, Belanda gagal di Piala Dunia 1990. Hal itu tak lepas dari kondisi internal tim yang tak harmonis,” cerita Gullit pada acara jumpa penggemar yang digagas Etihad di Jakarta, Sabtu (5/9/2015).

“Saat itu, para pemain meminta adanya pergantian pelatih (Thijs Libregts). Saat itu, para pemain ingin Cruyff menjadi pelatih. Namun, federasi (KNVB) malah memilih Leo Beenhakker,” tutur kapten De Oranje di Piala Eropa 1988 itu.

Sikap susah diatur itu membuat Belanda lacur atau sial. Dengan status juara Eropa, Belanda gagal total di Piala Dunia 1990. Mereka tersisih di perdelapan final karena kalah dari Jerman (Barat).

“Tentu berat bekerja dalam linkungan yang tak kondusif,” beber Beenhakker, 20 tahun selepas Jerman Barat 1990.

Pernyataan Gullit dan Beenhakker ini menunjukkan bagaimana prinsip egaliter begitu mengakar di Belanda. Sampai-sampai, terbawa ke tim nasional dan posisi pelatih pun tidak mendapatkan respek.

Situasi serupa dihadapi Belanda sepeninggal Louis van Gaal. Setelah Guus Hiddink gagal menjadi suksesor sepadan Van Gaal, Danny Blind yang menggantikannya pun gagal mengangkat performa De Oranje.

Belanda kalah dua kali beruntun dari Islandia dan Turki di bawah Blind. Hal ini membuat De Oranje terancam absen di Piala Eropa untuk pertama kalinya sejak 1984.

Bisa jadi, soal mentalitas dan prinsip egaliter di masyarakat Belandamenjadi penyebab kemandekan prestasi De Oranje saat ini. Hiddink dan Blind bukanlah pelatih sekarismatis dan sekeras Van Gaal.

Dengan keberadaan pemain senior dan berstatus bintang, butuh sosok yang lebih “besar” untuk mengatur dan membuat “konsensus” di tim agar menciptakan kesolidan. Blind tentu bukanlah sosok “besar” itu. Selain punya nama besar dan karismatik, sosok itu haruslah punya perbendaharaan taktik mumpuni.

Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul yang sama pada 13 September 2015.

Posted in menbal | Leave a comment

Dabolsik dan Hiperaktif ala Leverkusen

“Dabolsik!’ alias “Dapat bola sikat!” Frasa itu saya ucapkan kala menjadi pembicara di ESPN FC bersama Ganindra Bimo dan RM Panji Suryono di NET TV, Jumat (27/2) tengah malam. Frasa itu merujuk pada gaya permainan Bayer Leverkusen yang menang 1-0 atas Atletico Madrid, sehari sebelumnya.

Bukan tanpa alasan saya menyebut Dabolsik sebagai gaya permainan Leverkusen musim ini di bawah arahan Roger Schmidt. Mantan pelatih Red Bull Salzburg itu memang menuntut para pemainnya untuk bermain cepat, baik kala menguasai ataupun tanpa bola.

Bayern Munchen-nya Josep Guardiola pernah merasakan sakitnya taktik Schmidt. Januari 2014 lalu, Bayern yang terlihat digdaya di bawah Guardiola, dibuat tak berdaya kala bertanding melawan Red Bull. Saat itu, Bayern kalah telak 0-3.

Istilah gegenpressing atau counter pressing yang menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir lantaran taktik Jurgen Klopp di Dortmund, ternyata juga dipraktikkan Schmidt. Dia selalu menginstruksikan para pemainnya langsung menekan lawan begitu kehilangan bola. Seluruh 11 pemain di lapangan bahu membahu untuk memburu dan merebut bola kembali.

Setelah bola direbut kembali, Schmidt juga meminta para pemain Leverkusen untuk tidak berlama-lama mengolah atau menggoreng bola. Setiap ada celah, lepaskanlah tembakan! Ini yang saya sebut “Dabolsik” alias dapat bola sikat.

Dengan taktik seperti itu, tak heran, catatan jumlah tembakan Leverkusen musim ini menjadi salah satu yang tersering di Bundesliga 1. Total 380 tembakan telah ditembakkan Son Heung Min dkk. Jumlah itu hanya  kalah dari Bayern (422) dan Borussia Dortmund (401).

Jumlah tembakan yang dilepaskan Leverkusen dalam 23 pekan. (Squawka)

Tapi, lihatlah jumlah tembakan yang dilepaskan para pemain Leverkusen dari luar kotak penalti. Jumlahnya mencapai 180 kali, tertinggi dibandingkan 17 kontestan Bundesliga lain. Selisih tembakan jarak jauh Leverkusen dengan Dortmund memang hanya 21. Namun, tengok pula durasi waktu yang dibutuhkan pemain Leverkusen untuk bisa melepaskan tembakan.

Berdasar analis yang dilakukan Michael Caley, 100 tembakan yang dibukukan Leverkusen di Bundesliga musim ini dilakukan ketika menguasai bola lima detik atau bahkan kurang. Dengan jumlah sebanyak itu, De Werkself pantas disebut sebagai raja untuk urusan mengonversi taktik dari bertahan menjadi menyerang.

Dabolsik alias dapat bola sikat bisa dilihat dari statistik ini. (OPTA)

Pada pertandingan melawan Atletico, kita bisa melihat para pemain Leverkusen kerap melepaskan tembakan meski baru sebentar memegang bola. Terlihat buru-buru dan menjadikan boros peluang memang, tapi itulah gaya “dabolsik” Schmidt.

Proses gol yang dicetak Hasan Calhanoglu juga buah dari gegenpressing ala Schmidt. Hanya butuh 11 detik bagi Calhanoglu untuk menjebol gawang Miguel Moya. Inilah kali pertama bagi Moya memungut bola dari jala gawangnya di Liga Champions.

Dengan gaya permainan cepat itu, Leverkusen di bawah Schmidt menjelma menjadi salah satu tim yang paling atraktif di Bundesliga. Namun, di sisi lain, transisi cepat ala Leverkusen juga kerap meninggalkan lubang di area pertahanan.

Hal tersebut bisa menjadi santapan bagi lawan yang punya barisan gelandang dan penyerang dengan skill individu tinggi.  Tak heran, Leverkusen beberapa kali memainkan drama pertandingan dengan jumlah gol margin tinggi seperti saat kalah 4-5 dari Wolfsburg.

Sebuah konsekuensi dari permainan hiperaktif ala Schmidt. Selain borosnya jumlah tembakan – jika dibandingkan dengan gol yang tercipta – akibat strategi “dabolsik” itu tadi.

Posted in menbal | Leave a comment

Kejutan Itu Bernama SOCCER

Adalah sebuah klub sepak bola di kota Bandung bernama Bandung Raya. Dia hadir di Kota Kembang di tengah-tengah kemapanan dan hegemoni Persib Bandung sebagai tim kesayangan masyarakat Tanah Priangan.

Bandung Raya yang dibentuk pada 17 Juni 1987 kalah tua dari tim sekotanya, Persib, yang telah berdiri sejak 1933. Tak mudah bagi Bandung Raya merebut hati pencinta masyarakat Bandung saat itu.

Saya termasuk salah satu dari segelintir orang yang pernah menyaksikan laga Galatama yang melibatkan Bandung Raya di Stadion Siliwangi antara 1988 dan 1991. Saat itu, paling hanya sekitar 500 pasang mata yang menyaksikan aksi Tony Abdullah dkk. Meski sempat mengejutkan dengan menempatkan Dadang Kurnia sebagai top skorer, tetap tak banyak yang peduli dengan keberadaan Bandung Raya.

Situasi mulai berubah ketika Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu. Bandung Raya mulai mendapatkan atensi dari publik Parijs van Java. Keberhasilan menahan Persib 1-1 menjadi awal perubahan pandangan publik Bandung terhadap Bandung Raya. Meski tak langsung menyedot banyak fans, setidaknya penonton aksi Dejan Gluscevic-Peri Sandria dkk sudah bisa menyentuh ribuan pasang mata.

Performa Bandung Raya pada musim perdana Liga Indonesia itu pun membuat perhatian sebagian bobotoh Persib berpaling. Hati mereka sedikit goyah. Cinta kepada Persib tetap nomor satu, tapi godaan Bandung Raya membuat mereka tak kuasa melakukan pengkhianatan kecil.

Perselingkuhan itu pun terbayar. Bandung Raya yang disokong Mastrans bisa menjaga trofi lambang supremasi sepak bola tertinggi tanah air tetap di Tatar Priangan, khususnya Bandung.

Akan tetapi, kejayaan Bandung Raya tak bertahan lama. Setelah menjadi finalis pada gelaran ketiga Liga Indonesia, klub tersebut memilih mengundurkan diri dari pentas sepak bola nasional tanpa diketahui penyebab pastinya. Para pemain klub tersebut memilih berkiprah dan sukses bersama klub barunya.

April 2004.

Selang tujuh tahun dari bubarnya Bandung Raya. Saat pertama kali mendapatkan panggilan kerja dari Kompas Gramedia, hati saya langsung berbunga. Menjadi wartawan sepak bola merupakan cita-cita terpendam saya. Impiannya saya cuma satu: terbang meliput Piala Dunia.

Selain berbunga, jujur, saya juga sempat kaget lantaran panggilan kerja saya datang dari Tabloid SOCCER. “Apakah itu?” tanya saya kepada rekan satu kontrakan. Teman saya itu pun bercerita bahwa SOCCER merupakan tabloid yang khusus mengupas sepak bola. Saya pun menyempatkan membeli edisi terbaru dari tabloid tersebut sebagai bahan untuk wawancara.

Singkat cerita, saya pun diterima bekerja di SOCCER. Meski berbeda dengan latar belakang akademik, saya begitu menikmati kerja dengan tekanan deadline yang demikian ketat, karena saat itu untuk pertama kalinya, SOCCER dibuatkan terbit seminggu dua kali. Saya tetap menjalani rutinitas tersebut dengan perasaan senang.

“Ketika kamu punya keinginan kuat, seluruh dunia akan berkonspirasi untuk membantumu mewujudkan impian itu,” ujar Raja Tua dalam novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho.

Kalimat itu jualah yang membuat mensyukuri jalan yang diberikan oleh-Nya. Impian masa kecil saya untuk meliput langsung Piala Dunia langsung terpenuhi, hanya dalam tempo dua tahun bekerja. Saya terbang meliput Germany 2006.

Liputan Piala Dunia merupakan satu dari sekian mimpi yang saya wujudkan berkat SOCCER. Mimpi-mimpi yang lain datang menghampiri. Salah satunya adalah tampil di layar televisi.

Bagi saya pribadi, SOCCER bukan sekadar tempat bekerja. Di situlah rumah (karena memang saya jarang pula ke kost) dan keluarga lain saya. Ada ikatan emosional kuat yang terbentuk selama bertahun-tahun bekerja di SOCCER, tak peduli berapa banyak orang yang datang dan pergi.

Kebahagiaan kami semakin meningkat setelah lahir DuniaSoccer. Situs sepak bola yang awalnya hanya berarmadakan dua orang itu bisa menjadi rumah tempat belajar kami dan para mahasiswa yang datang. Keluarga kami pun semakin besar.

Suka dan duka kami lalui bersama. Goncangan dan badai merupakan hal yang jamak ditemui. Tapi, hal tersebut membuat kami semakin kuat dan besar. Cobaan dan deraan itu justru menempa kami untuk mewujudkan mimpi yang lebih besar.

Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang memutuskan. Ujar-ujar itu yang dirasakan setelah 10 tahun tujuh bulan bekerja di SOCCER. Keinginan dan mimpi baru yang ingin dikejar terpaksa harus kami lupakan untuk selama-lamanya.

Rumah yang membentuk saya selama satu dekade ini harus menghadapi kenyataan tergusur oleh roda zaman. Saya pun merasakan detak jantung yang sangat kencang selama dua hari setelah pengumuman penggusuran rumah saya ini.

Ketika itu, saya pun paham dengan perasaan orang-orang yang harus menghadapi kenyataan bahwa rumahnya tempat menghabiskan masa kecil digusur sehingga harus terpisah dengan keluarga maupun tetangga yang telah dikenal dekat. Ada emosi yang menjalar. Bukan marah, bukan kesal, tapi saya tak bisa mengungkapkannya.

Akan tetapi, hidup harus terus berjalan. Tuhan Maha Tahu yang terbaik bagi makhluk ciptaan-Nya. Kalimat itu jua yang menjadi penyemangat dan penopang hati saya. Insya Allah, ini baik bagi saya 🙂

Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan tempaan dan pembelajaran hidup di SOCCER, khususnya keluarga besar Kompas Gramedia. Dari situlah, saya bisa menjadi sosok Kang Jalu seperti sekarang ini.

Kepada audiens SOCCER dan DuniaSoccer, saya pribadi mohon maaf atas segala kekhilafan yang mungkin kami lakukan seperti typing error, kesalahan data, hingga kesulitan mengakses situs kami. Hanya kalianlah yang membuat kami bisa terus menjaga semangat untuk menyelesaikan produk terakhir kami, SOCCER Edisi No. 13/XV. Kamis, 9 Oktober ini, kami mohon pamit.

#SOCCERpamit

Setelah lama mati suri, Bandung Raya kembali muncul dan mengejutkan pentas sepak bola nasional pada 2013. Mempunyai julukan The Boys Are Back, mereka tampil mengejutkan pada 2014 dengan menjadi penguasa Bandung setelah dua kali menggagalkan ambisi Persib dalam duel Wilayah Barat Indonesia Super League.

Posted in harewos, menbal | Leave a comment

Reuni Tak Ubahnya Ganja

Dua dekade bukanlah jangka waktu yang singkat. Banyak perubahan yang berbeda dalam 20 tahun kehidupan.

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak berubah: kenangan. Memori kehidupan pada 20 tahun lalu pasti tak bakal berubah. Orang yang mengingatnya mungkin sudah lupa tapi bukan berarti tidak ingat sama sekali.

Otak manusia itu seperti rak buku yang mahabesar. Kita mungkin lupa menaruh sebuah buku di mana. Tapi, ketika sudah menemukannya lagi, kita pasti ingat akan cerita yang tertulis dan kembali mengenang ketika pertama kali membacanya.

Begitu juga dengan memori semasa bersekolah di SMP. Karena sudah 20 tahun berlalu, ada banyak yang sudah terserak dan lupa tersimpan di memori otak yang sebelah mana.

Karena itu, sebuah reuni, menjadi ajang yang pas untuk mencari kenangan yang sudah terbentuk pada dua dekade lalu.

Kenangan – yang dibentuk 20 tahun lalu itu – tak bakal berubah. Hal tersebut bisa dilihat dari ekspresi dan tawa lepas yang terlihat dari para peserta reuni.

Banyak dari mereka yang sudah tidak sama seperti 20 tahun lalu. Ada  yang rambutnya sudah menipis hingga menyilaukan pandangan, ada pula yang perutnya sudah membuncit. Beberapa gelintir dari para alumni itu juga sudah menjadi orang terpandang secara pangkat, gelar, maupun jabatan.

Reuni Dua Dekade SMP Negeri 5 Bandung Lulusan 1994

Akan tetapi, hal tersebut sama sekali tak terlihat di Reuni Dua Dekade Alumni SMP Negeri 5 Bandung Lulusan 1994, Sabtu (31/5). Semua sejajar, bahkan bagi seorang anak presiden sekalipun.

Mereka seolah kembali teringat pada masa-masa bersekolah di SMP, ketika sama-sama berseragam putih-biru serta harus berlencana dan berdasi. Tak ada perbedaan sama sekali kecuali jika ingin mendapatkan cubitan mesra dari pak kepala sekolah.

Para alumni akan kembali digiring kepada masa SMP. Mereka bertingkah seolah masih berseragam putih-biru meski sudah tak selincah atau tak bau matahari lagi seperti dulu. Tertawa lepas tanpa perlu memikirkan tingkat inflasi atau perubahan nilai tukar rupiah.

Masa SMP mungkin buat segelintir kita tak seindah masa SMA. Tapi, tak boleh dinafikan bahwa pada periode itulah kita mengeksplorasi banyak hal baru yang kemudian dimatangkan pada SMA. Don’t we?

Wajar apabila kemudian banyak yang gagal move on ketika reuni berakhir. Padahal, 8 jam untuk sebuah reuni merupakan periode yang panjang. Entah karena kembali bersua kecengan masa lalunya sehingga memori smartphone habis, atau sudah cukup untuk sekadar membuka kenangan masa lalu yang sebelumnya sudah sulit ditemukan karena pikiran yang terus bertumpuk dan berlapis.

Reuni tak ubahnya ganja, bisa membuat semua yang merasakannya tertawa lepas bahkan oleh sebuah hal kecil dan melihat hal-hal lain menjadi tidak penting.

Ketika ganja itu habis dihisap, kita akan kembali ke realitas. Tapi, rasa gembira yang muncul pada saat menghisapnya, bakal selalu kita rasakan.

Ibarat menghisap ganja, reuni tak bisa dilakukan secara kerap. Esensi dari pertemuan dan sparkling yang ada akan sirna.

Terima kasih buat panitia yang sudah menguras waktu dan energinya sehingga saya mendapatkan “ganja” tanpa perlu takut digerebek pihak keamanan.

Terima kasih juga buat seluruh teman-teman alumni SMP Negeri 5 Bandung lulusan 1994 yang telah hadir dan menyukseskan acara ini.

Juga para guru-guru yang memang the real pengajar, bukan cuma pendidik, yang telah menyempatkan hadir ke acara reuni ini *menjura*

Bandung, 31 Mei 2014, 22:53 WIB

Posted in harewos | Leave a comment

Memori Nigeria vs Paraguay di Piala Dunia 1998

Satu bulan lagi, Piala Dunia 2014 akan digelar. Brasil 2014 adalah Piala Dunia kedelapan yang disaksikan oleh saya sejak melek sepak bola pada 1985.

Dari delapan Piala Dunia itu, ada sejumlah laga yang begitu terekam dalam ingatan saya. Uniknya, laga-laga itu bukanlah final Piala Dunia yang merupakan puncak dari kemeriahan sepak bola di kolong jagat.

Ambil contoh Piala Dunia 1990. Saya begitu terkesan dengan babak 16-besar antara Brasil dan Argentina. Bukan lantaran Claudio Cannigia mencetak gol indah setelah menerima umpan Diego Maradona atau ucapan Branco usai pertandingan yang mengatakan dirinya seolah “dibius” dengan air mineral yang diberikan tim medis Argentina.

Momen yang tertinggal dari laga itu adalah kejadian beberapa saat sebelum kick-off babak kedua. Saat itu, kamera televisi menyorot perempuan suporter Brasil. Tanpa dikira, si cewek melepas penutup auratnya yang ada di bagian atas. Bagi anak SD seperti saya, hal tersebut tentu menjadi sebuah memori, entah indah atau justru menjadikan saya berotak mesum seperti sekarang hehe…

Laga lain yang saya ingat adalah partai Nigeria vs Paraguay di Prancis 1988. Saat itu, saya suka dengan aksi Jose Luis Chilavert, kiper Paraguay, yang menerima backpass dari pemain bertahan lalu kemudian menggocek (kalau tidak salah) Rasheed Yekini.

Paraguay menang 3-1 atas Nigeria. Sebuah kejutan lantaran Nigeria sebelumnya membungkam Spanyol dan Bulgaria yang merupakan dua unggulan teratas Grup D.

Satu hal yang menarik dari laga Nigeria vs Paraguay adalah putusan Bora Milutinovic mencadangkan sejumlah pilar The Super Eagles. Dia seolah mengabaikan peringatan Finidi George usai menang atas Bulgaria, “Untuk laga berikutnya, kami harus tetap menjaga mentalitas pemenang seperti ini.”

Mungkin atas dasar strategi dan guna mengistirahatkan pemain, Milutinovic memainkan sebagian besar pemain pelapis pada laga pamungkas yang sudah tak lagi menentukan melawan Paraguay. “Toh, kami sudah bisa relaks dengan kelolosan ini,” jelas Milutinovic.

Pada laga melawan Uruguay, terlihat Finidi George dan Daniel Amokachi tertawa lepas. Mereka sangat santai dan seolah tak peduli dengan hasil akhir pertandingan melawan Paraguay.

Sikap santai itu kemudian menjadi bumerang di babak 16-besar. Putusan Milutinovic mencadangkan skuat utama berbuah blunder. Mentalitas pemenang yang sudah dibangun sejak kemenangan pada laga pertama melawan Spanyol seolah kembali ke titik nol. Nigeria dibuat tak berdaya oleh Denmark dan kalah 1-4. “Kami menjadi kehilangan fokus,” sesal Finidi usai kekalahan tersebut.

Paraguay menang 3-1 atas Nigeria di Piala Dunia 1998.

SEPERTI BAYERN

Putusan Milutinovic pada laga Nigeria vs Paraguay itu terekam kuat dalam benak saya. Terutama setiap terjadi fenomena serupa, seperti Bayern Munchen musim ini. Usai kemenangan 3-1 atas Hertha Berlin pada 26 Maret lalu, performa Bayern merosot tajam.

Prestasi menjadi juara dengan sisa delapan spieltag tampaknya telah membuat pasukan Bayern terlena, termasuk pelatih Josep Guardiola.

Usai kemenangan atas Hertha, Guardiola bereksperimen dengan menurunkan sejumlah pemain pelapis pada laga melawan TSG 1899 Hoffenheim. Philipp Lahm, Manuel Neuer, dam Arjem Robben terlihat santai di bangku cadangan.

Bayern gagal menang atas Hoffenheim. Padahal, laga tersebut dilangsungkan di kandang sendiri. “Ini adalah laga pertama usai kami juara sehingga lawan bermain lebih agresif,” elak Guardiola usai pertandingan.

Tapi, ternyata bukan hanya pada laga tersebut Bayern melempem. Imbas dari kelengahan yang terjadi akibat tak mempertahankan skuat utama dan mentalitas pemenang, Bayern keteteran pada sisa kompetisi. Kekalahan telak dari Borussia Dortmund dan Real Madrid menjadi bukti sahih.

Laga melawan Borussia Dortmund di final DFB Pokal, akhir pekan ini, menjadi tantangan bagi Guardiola untuk membuktikan dirinya bisa kembali membangkitkan mentalitas Bayern. Jika kembali dibekuk Dortmund, pelatih asal Spanyol itu tampaknya harus kembali disodorkan ujar-ujar, “Don’t change the winning team.”

Saya juga teringat akan laga ketiga Jerman (Barat) pada fase grup – juga Grup D – Piala Dunia 1990 melawan Kolombia – salah satu laga yang juga meninggalkan kesan karena saya tahu apa itu dijebol melewati selangkangan setelah membaca ulasan Kompas soal gol Freddy Rincon ke gawang Bodo Illgner. Tak heran, otak saya sampai saat ini pasti tak jauh dari urusan selangkangan :p

Saat itu, lantaran Der Panzer sudah lolos, Franz Beckenbauer mencadangankan sejumlah pemain, tapi komposisi utama dipertahankan. Pencadadangan pemain pun penuh perhitungan. Pelatih yang merupakan kapten Der Panzer di Piala Dunia 1974 itu sengaja menyimpan Brehme yang sudah terkena satu kartu kuning.

Putusan Beckenbauer itu terbukti manjur. Brehme menentukan keberhasilan timnya menjuarai Italia 1990 melalui gol indah ke gawang Belanda di perdelapan final dan penalti ke gawang Argentina pada laga puncak.

Perhitungan tersebut tentu tak ada pada putusan Milutinovic pada laga Nigeria vs Paraguay. Dari laga tersebut, saya pun sependapat bahwa untuk banyak kesempatan, prinsip “Don’t change the winning team” tak boleh ditanggalkan.

Itulah sebagian laga-laga Piala Dunia yang meninggalkan kesan bagi saya. Apa laga Piala Dunia yang meninggalkan kesan bagi Anda hingga sekarang?

Posted in menbal | Leave a comment

Khutbah Jumat: Belajarlah dari Liverpool

Assalamualaikum Wr. Wb.

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahuAsyhadu Allah ilaaha illallah, Wa asyhaduanna muhammadur rasulullahAllahumma shalli alaa muhammad wa alihi wa ashabihi waman tabi ‘ahum bi ihsanin ilaa yaumiddinYaa ayyuhalladzii na ‘amanuttaqullah haqqo tuqootihi walaa tamu tunna ilaa wa antum muslimun

Tilka alddaru alakhiratu najAAaluha lillatheena la yureedoona AAuluwwan fee alardi wala fasadan waalAAaqibatu lilmuttaqeena

Amma ba’du

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Ta’ala atas segala karunia, hidayah dan berjuta kenikmatan tak terhingga yang telah Dia anugerahkan kepada kita semua.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Selanjutnya marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Hadirin Rahimakumullah

Jika kesombongan itu seperti balon yang besar sekejap, jiwa kita akan mudah terbang mengangkasa namun rentan terhadap benda tajam. Ketika kempes, menjadi tidak berisi.

Sifat sombong merupakan penghalang bagi seorang makhluk mendapatkan surga Sang Khalik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  dalam surat Al Isra ayat 37:

Wala tamshi fee al-ardi marahan innaka lan takhriqa al-arda walan tablugha aljibala toolan

”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung.”

Allah tak suka makhluknya yang sombong. Penyakit hati itu merupakan penghalang bagi manusia mendapatkan surga-Nya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), surga adalah alam akhirat yg membahagiakan roh manusia yg hendak tinggal di dalamnya. Pengembangan makna dari surga adalah kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan yang diperoleh hanya selama masih hidup di dunia alias kenikmatan duniawi.

Kesombongan bakal mengurangi kesempatan manusia itu mendapatkan kenikmatan yang lebih besar, tidak hanya di alam akhirat tapi sudah dimulai di alam dunia.

Manajer Brendan Rodgers dan kapten Steven Gerrard kecewa berat.

Perjalanan Liverpool musim ini bisa dijadikan contoh bagi kita semua. Ketika mencatat rangkaian kemenangan sejak awal 2014, banyak pengamat sepak bola yang awalnya tak memprediksi, kemudian memasukkan The Reds sebagai salah satu kandidat juara bersama Arsenal pada saat itu, Chelsea, dan Manchester City.

Akan tetapi, para penggawa Liverpool tak pernah terbuai oleh sanjungan yang berlebihan itu. Mereka tetap rendah hati atau tawadhu. Tak pernah terbersit dalam pikiran pasukan Brendan Rodgers untuk melabeli diri sendiri sebagai favorit juara.

“Target kami tetaplah finis di empat besar dan meraih tiket Liga Champions,” tegas Rodgers berkali-kali.

Sikap rendah hati itu tak lepas dari peran dr. Steve Peters. Psikiatri yang bekerja paruh waktu di Liverpool itu sejak awal sudah menegaskan kepada Steven Gerrard dkk untuk tetap rendah hati dan jangan pernah sesumbar atas prestasi semu yang didapat.

“Saya akan memandu Liverpool untuk berkata, ‘Dengan segala upaya, mari kita menyepakati mimpi itu dan berusaha mewujudkannya. Tapi, jangan pernah menjadikan itu sebagai tujuan akhir yang lantas membebani kita dengan sesuatu yang tak berada di dalam kontrol kita’,” ujar Peters.

Wejangan Peters itu mujarab. Liverpool tampil ciamik dan mendulang rekor sebelas kemenangan beruntun, termasuk melawan tiga klub besar, Arsenal, Manchester United, dan Manchester City. The Reds pun menggapai puncak.

Sayangnya, kenikmatan sementara, mantap di puncak klasemen, tampaknya telah membuat Rodgers dan pasukannya lalai. Setan pun menggoda dan membisikkan, “Inilah kesempatan besar bagi Liverpool juara,” usai kemenangan dramatis atas Man. City.

Rodgers pun masuk dalam perangkap setan. Kesombongannya muncul. “Saya ingin mempertahankan posisi puncak klasemen hingga akhir kompetisi,” komentar dia, usai menang atas The Citizens, yang menyiratkan kesombongan.

Allah pun memberikan teguran, meski tidak secara langsung. Dimulai dengan meniupkan rasa gugup pada pertandingan melawan Norwich City, The Reds menang dengan susah payah. Lalu puncaknya pada pertandingan melawan Chelsea.

Pada pertandingan tersebut, The Reds bisa mendominasi permainan dengan penguasaan bola 70% berbanding 30%. Tapi, apa yang terjadi? Yang berkuasa tak menjadi pemenang.

Liverpool pun dibuat kembali terhujam ke bumi. Kesombongan yang sempat muncul langsung dibuat sirna lantaran kekalahan tersebut.

Seperti diriwayatkan Bukhari, Rasulullah SAW bersabda. “Menjadi hak Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya.”

Itulah yang terjadi di Liverpool. Rodgers yang merasa taktiknya sudah mapan dan tanpa cela, ternyata tak mampu mengalahkan kemampuan mentornya, Jose Mourinho, yang dengan cerdik membuat antidot permainan The Reds.

Rodgers seharusnya bisa belajar dari cerita Nabi Sulaiman yang tertuang di Quran Surat An Naml ayat 40.

qaala alladzii ‘indahu ‘ilmun mina alkitaabi anaa aatiika bihi qabla an yartadda ilayka tharfuka falammaa raaahu mustaqirran ‘indahu qaala haadzaa min fadhli rabbii liyabluwanii a-asykuru am akfuru waman syakara fa-innamaa yasykuru linafsihi waman kafara fa-inna rabbii ghaniyyun kariimun

Yang mempunyai arti, “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Demikianlah khutbah sigkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Ya Allah, tunjukkanlah jalan kepada hambamu yang sombong ini, jalan menuju ketawadhuan yang engkau ridai. Karena sesungguhnya, hanya engkaulah yang mampu menjadikan kami orang yang bertawadhu.

barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiimwa nafa’nii wa iyyakum bima fiihimaa minal aayaati wa dzikril hakiimwa nafa’anaa bi hadii sayyidal mursaliinwa biqawlihiil qawiim aquulu qawli haadzawa astaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakumwa lii syaa-iril mu’miniina wal mu’minaatwal muslimiina wal muslimaat min kulli dzanbiifastaghfiruuhuu innahuu huwas samii’ul ‘aliimwa innahuu huwal ghafuurur rahiim

DUDUK DI ANTARA DUA KHUTBAH

Alhamdulillahirobbil Alamin Wassholatu Wassalamu ‘Ala Ashrafil Ambiyai wal mursalin wa ‘ala alihi wa sohbihi ajmain.Amma ba’du : Ya Ayyuhalladzina A’manut Taqulloha Haqqo tu qotihi wala tamutunna illa wa antum muslimun.

Jamaah yang berbahagia, pada khutbah yang kedua ini, saya hanya akan mengingatkan bahwa kesombongan punya pengaruh negatif, dalam hal ini dalam perburuan gelar juara Liverpool.

Kekalahan dari Chelsea memang membuat kans The Reds menjuarai Premier League menipis. Tapi, bukan tanpa kemungkinan.

Kolo Toure dkk hanya perlu mengembalikan sikap rendah hati yang sempat hilang sambil berdoa meminta kepada Sang Pencipta. Sebab, seperti janji Allah di QS Al Ghafir ayat 40, “Mintalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.”

Karena itulah, mari kita senantiasa bertawadhu dalam mengarungi kehidupan ini. Jangan sampai, limpahan rezeki yang lebih besar dari Allah SWT terhambat akibat ada setitik sikap sombong di hati kita. Kekalahan Liverpool dari Chelsea menjadi bukti nyata terbaru.

Selanjutnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar kita dan kaum muslimin dijauhkan dari segala sikap sombong.

(PEMBACAAN DOA)

‘ibaadallahinnallaaha ya-muruu bil ‘adli wal ihsaanwa iitaa-i dzil qurbaawa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyiyaizhzhukum la’allakum tadzakkaruunfadzkurullaaha ‘azhiimi wa yadzkurkumfastaghfirullaaha yastajib lakumwasykuruuhu ‘alaa ni’matil latiiwa ladzikrullaahu akbaruwa aqiimish shalah

Posted in menbal | Leave a comment

Menikmati Keaslian di Pantai Pandawa

Bali dikenal dengan keindahannya. Pantai-pantai di Pulau Dewata selalu menjadi tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu pantai yang pantas dikunjungi adalah Pantai Pandawa yang terletak di bagian selatan Bali tepatnya di wilayah Kutuh. Lokasinya ada di antara Pecatu dan Uluwatu.
Pantai Pandawa alias Secret Beach, Kutuh, Bali

Pantai Pandawa, Bali, diambil dari bukit kapur di atasnya.

Untuk memasuki area tersebut, wisatawan hanya ditarik iuran tiga ribu rupiah plus biaya masuk untuk kendaraan. Saya hanya mengeluarkan Rp8.000 untuk dua orang plus satu mobil, karena untuk pemandu wisata yang berasal dari Bali tidak dikenakan biaya.

Mengunjungi Pandawa memang tak seperti kita menyambangi Pantai Kuta atau Sanur. Tak ada keriuhan yang ditawarkan. Tapi, justru itulah nilai lebih Pantai Pandawa.

Keindahan Pantai Pandawa sudah bisa dinikmati dari bukit kapur di atasnya. Bukit yang dibelah pemerintahan Bali untuk kemudahan akses itu seolah menjadi gerbang yang mengantarkan pengunjung ke “dunia lain”, dunia yang masih asli tanpa ada modernisasi.

Seperti nama asalnya, Secret Beach, pantai ini memang menawarkan keaslian. Tak ada tempat penginapan di sekitarnya. Hanya ada sejumlah warung makan, kios jajanan, serta beberapa tempat bilas dan kamar mandi.

Untuk di beberapa area yang terbilang aman, ada permainan kayak yang bisa dipilih. Tapi, cara menikmati keindahan Pantai Pandawa sesungguhnya adalah dengan duduk di kursi berjemur, melihat ke laut lepas, dan biarkan desiran angin melewati kita. Kita cukup mengeluarkan Rp50 ribu untuk menyewa satu payung dengan dua kursi berjemur tanpa batas waktu pemakaian.

Bagi turis mancanegara yang memang mencari kehangatan, mereka akan menyingkirkan payung penutup dan membiarkan bagian tubuhnya terpapar sinar matahari Bali. Sejumlah turis perempuan mancanegara itu pun tak ragu untuk bertelanjang dada.

Adapun nama Pandawa diambil dari patung-patung putra Pandu yang berada di bukit kapur menuju pantai indah tersebut. Mulai Dharmawangsa (Yudhistira atau Dharmaraja), Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, serta ibu mereka, Dewi Kunti. Patung-patung itu berukuran sangat besar. Jadi ketika ingin mengabadikannya, butuh foto bertipe panorama untuk bisa merekam utuh seluruhnya.

Pantai Pandawa tampaknya tinggal menunggu waktu untuk digarap menjadi objek wisata komersil yang lebih menguntungkan. Bukit kapur yang ditebas itu nantinya berpotensi dijual kepada investor untuk dikembangkan menjadi penginapan.

Ketika hal itu terjadi, keindahan Pantai Pandawa memang tak bakal hilang. Pesona matahari terbit tentu akan lebih mudah dilihat karena aksesnya kian mudah. Tapi, keaslian dan kesunyian yang ditawarkan Pantai Pandawa saat ini tentu akan berkurang kenikmatannya.

Pantai Pandawa alias Secret Beach, Kutuh, Bali

Bersantai di tepi Pantai Pandawa.

Posted in jepret | Leave a comment