Reuni Priangan Jilid Kesekian

Mohon bantuan rekan-rekan alumni Priangan lulusan 1991 untuk mengisi survey berikut Survey Reuni Priangan 1991

Posted in menbal | Leave a comment

Bukan Akhir dari Lari Loe!

Minggu, 15 Desember 2013, menjadi hari yang paling berbahagia buat saya. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya, saya mengikuti lomba lari yang digagas Nike, #bajakJKT :p

Sebuah pencapaian spesial menurut saya yang bertubuh buncit. Jangankan lari 10 kilometer, joging rutin dengan fasilitas yang sudah disediakan kantor aja kadang masih males, apalagi membayangkan jarak 10 km yang tak ubahnya jarak antara Pasar Lembang dan Tangkuban Perahu.

Tuh kan, nama saya tercatat sebagai peserta.

Maka, dimulailah lomba lari itu. Tepat pukul 06.30 WIB, bendera tanda start dikibarkan oleh tiga bintang sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas, Ahmad Bustomi, dan Ponaryo Astaman.

Sebagai #JDIJKTCREW saya beruntung mendapatkan posisi start yang terdepan. Begitu bendera start dikibarkan, berebet saya lumpat (kalo kata orang Sunda mah).

Tak butuh waktu lama buat saya untuk mengetahui kemampuan dalam berlari. Belum sampai satu kilometer berlari, 1, 2, 3, 4, … 100 orang bahkan lebih mulai menyusul. Ah, buat saya tidak masalah, toh yang saya cari dari lari ini bukan untuk sebuah pengakuan akan kemenangan atau waktu yang ditempuh.

Kilometer demi kilometer dilalui. Semakin banyak yang mendahului saya. Kaki yang terasa kian berat membuat saya tak bisa lari untuk berlari dengan kecepatan penuh. Ya, cukup 5 km/jam seperti settingan ketika ada niatan treadmill di kantor hehe…

Terkadang, ketika melihat ada kendaraan yang ditahan polisi demi membiarkan para pelari lewat, barulah saya mempercepat langkah. Selain gak enak hati sama para pengguna jalan yang lain, saya juga gengsi donk kalo pengendara itu ngomong, “Huh, boyot (lambat) aja mau ikut lomba lari!”

Singkat cerita, sampailah saya pada papan berjarak 400 meter menjelang garis akhir. Memasuki gerbang Stadion Gelora Bung Karno, terpampang spanduk bertuliskan, “Garis Finish Bukan Akhir Dari Lari Loe!”.

Gegap gempita menyambut saya (juga pelari-pelari lain sebelum saya) saat memasuki stadion. Meski berasal dari rekaman, suara itu setidaknya memberikan semangat tambahan bagi saya untuk mempercepat masuk garis finish.

“Ayo Kang, biar keren kita ke garis finishnya harus lari,” kata teman saya, Andre Mundre, menyemangati.

Kami pun berlari saat 100 meter menjelang garis finish. Papan digital menunjukkan waktu 1 jam 49 menit. Duh, meleset 19 menit dari target saya untuk menyelesaikan lomba dalam 1 jam 30 menit 😀

Hanya saja, ketika ada yang menanya, “Berapa menit lari tadi?”, saya dengan lantang menjawab, “satu nol sembilan!” Orang pasti menyangka waktu saya adalah satu jam 9 menit. Padahal, maksud saya 109 menit alias 1 jam 49 menit hehehe

Memang ada perasaan magis ketika mencapai garis finish. Kebanggaan yang luar biasa karena saya bisa menyelesaikan lomba lari 10K pertama saya. Sekaligus menepis anggapan teman SD saya, Rezki Adhitia, yang ditemui jelang start. “Ah, maneh finis wae batur moal percaya, Jal,” seloroh dia. (“Aing bisa Rez!!” :p)

Perasaan yang luar biasa itu terus terasa sampai berhari-hari kemudian. Semangat untuk berolahraga (terlebih setelah mengetahui tensi saya sangat tinggi 160/110) terus menggelora.

Benar kata spanduk sebelum memasuki putaran akhir finis, “Bukan Akhir Dari Lari Loe!”. Itu juga yang saya rasakan saat ini.

Enggak perlu takut gagal menyelesaikan lomba atau finish belakangan. Tujuan sesungguhnya bagi orang awam yang mengikuti lomba lari toh bukan mengejar catatan waktu. Lebih kepada menjaga kondisi tubuh dan ajang silaturahim, karena saya bertemu dari teman masa TK hingga kuliah di lomba lari tersebut.  Mungkin plus mencari jodoh buat beberapa teman yang masih single 😀

Tabik.

Pose sebelum lomba, sayang perut gak bisa ditutupin 🙂

Posted in harewos | Leave a comment

@DuniaSOCCER XI

Baru sadar, ternyata saya udah lima tahun mengelola @duniaSOCCER :’)

Selama lima tahun itu, ada 11 pemain utama yang pernah dan masih bekerja sama dengan saya. Sebuah The Dream Team menurut saya.

Mengapa saya katakan Tim Impian? Dibandingkan lima tahun lalu, jumlah visitor @duniaSOCCER saat ini naik 50 kali lipat. Hal itu tentu tak lepas dari peran mereka.

Peran mereka akan saya bahas dalam lanjutan tulisan ini. Yang jelas, di @duniaSOCCER, status saya sama seperti Indra Thohir saat Persib Bandung menjuarai musim terakhir Perserikatan pada 1993-94 dan edisi perdana Liga Indonesia.

“Ah, maneh oge nu ngalatih tim ieu pasti juara!”

(Terjemahan: Ah, kalau kamu yang melatih juga, tim ini pasti juara!)

Tanpa menafikan 3-4 orang yang pernah bekerja sama, terima kasih kepada: Irawan Dwi Ismunanto, Scherazade Mulia Saraswati, Okky Herman Dilaga, Johanna Pauline, Redzi Arya Pratama, Yosua Eka Putra, Christian Anju, Febriansyah Pradana, Kezia Saroinsong, Damar Iradat, Jeremia Lumbanraja (*menjura*)

Posted in harewos | Leave a comment

Benbarek: Disembah Pele, Dilupakan Negeri Leluhur

Pemain asal Afrika di beberapa kompetisi sepak bola Eropa telah menjadi tulang punggung sejumlah tim. Keberadaan mereka begitu penting. Label bintang pun disematkan. Rabah Madjer, George Weah, atau Samuel Eto’o merupakan beberapa pesepak bola Benua Hitam  yang dianggap sukses menaklukkan Benua Biru yang lekat dengan rasialisme.

Melihat kiprah pesepak bola Afrika saat ini, mereka tak boleh melupakan keberadaan Larbi Benbarek. Pemain kelahiran Maroko itu merupakan salah satu cikal bakal pesepak bola sukses di Eropa.

Lahir di Casablanca (Maroko) pada 16 Juni 1914, pemain bernama lengkap Haj Abdelkader Larbi Ben M’barek itu menjadi pemain Arab-Afrika pertama di Eropa. Setelah tampil apik bersama klub lokal, Ideal Club Casablanca dan US Marocaine, Benbarek menarik minat Olympique Marseille yang meminangnya pada 1938.

Perang Dunia II sempat menghentikan kiprah Benbarek di Afrika. Dia kembali ke Marocaine, namun beberapa klub Eropa tetap memantaunya. Setelah PD II surut, dia kembali ke Prancis dan membela Stade Francais.

Akan tetapi, cerita emas Benbarek yang sesungguhnya terjadi di Atletico Madrid. Membela Atletico antara 1948 dan 1954, dia mempersembahkan dua trofi La Liga dan satu Piala Eva Duarte (sekarang Copa del Rey).

BATAL JADI PETINJU

Casablanca merupakan pelabuhan besar di Afrika pada awal Abad XX. Dari kota itulah, invasi Eropa dimulai. Termasuk sejumlah cabang olahraga.

Tinju merupakan olahraga favorit di Afrika Utara. Melalui tinju, kaum pribumi bisa dengan mudah mendapatkan uang asal mau diadu.

Seperti kebanyakan pemain Afrika saat ini, masa lalu Benbarek pun kelam. Sang ayah yang merupakan montir kapal, meninggal saat Benbarek masih kecil. Meski bersama teman-teman masa kecilnya – Ben Abdallah Fatah “Didi” Hamiri Abdelkader, Mohamed Ben Kadmiri, dan Marcel Cerdan – sering diajak bermain bola di lapangan kosong di daerah rumahnya, Benbarek lebih tertarik dengan bujukan sang kakak, Ali Ben Taieb yang memintanya bertinju demi membantu ekonomi keluarga.

Menyambi menjadi tukang kayu, otot Benbarek juga ikut terbentuk. Dalam usia 14 tahun, dia memiliki kekuatan dan kecepatan pukulan melebihi sang kakak. Tapi, hasrat untuk menjadi pesepak bola melebihi bujukan sang kakak.

Pada usia 16 tahun, dia pun bergabung dengan klub sepak bola lokal di Casablanca. Pada laga pertamanya, dia menolak memakai sepatu dan lebih memilih bertelanjang kaki. Hal itu tak membuatnya kehilangan kemampuan. Terbukti dia ikut berandil dalam penciptaan dua gol oleh timnya.

Kebintangan Benbarek juga terbantu oleh Cerdan. Rekan masa kecilnya yang biasa bermain di posisi sayap kanan itu lebih memilih menekuni dunia tinju dibandingkan meneruskan karier di sepak bola. Bukan pilihan yang salah karena Cerdan kemudian menjadi salah satu petinju legendaris Prancis, sebelum kecelakaan pesawat merenggutnya pada 1949.

MUTIARA HITAM

Musim panas 1937. Jozsef Eisenhoffer, pelatih Olympique Marseille asal Hungaria, memantau sejumlah pemain di Casablanca untuk direkrut dan dibawa ke Prancis. Atas pertimbangan sang kakak, Benbarek menerima pinangan L’OM. Dia mendapatkan kontrak sebesar 30 ribu francs dengan gaji 3.000 franc per bulan.

Setelah mengantarkan timnya menjuarai kompetisi domestik pada 1937-38, Benbarek pun berlabuh di Marseille pada 28 Juni 1938. “Di klub ini, kamu bermain sebagai striker,” bilang Eisenhoffer kepada Benbarek.

Di klub barunya itu, Benbarek mendapatkan julukan “Perle Noir” atau “Mutiara Hitam”. Julukan itu diberikan fans L’OM lantaran melihat kulit Benbarek yang lebih menyerupai orang Senegal dibandingkan Maroko.

Meski berbau rasialis, julukan itu justru menjadi pembuktian Benbarek yang sesungguhnya. Dia menjadi idola di Marseille lantaran kemampuan dribble serta gol-golnya.

Pada laga debutnya, 24 November 1938, menghadapi Racing Paris, Benbarek mengejutkan publik Prancis. Dia beberapa kali mengelabui Auguste Jordan, pilar timnas Prancis. Dia menyumbang dua dari lima gol kemenangan timnya atas Paris. Meski klub yang ditaklukkan 2-5 itu menawar 150 ribu franc, Marseille tak menggubrisnya.

Sayangnya, Benbarek gagal mempersembahkan gelar bagi Marseille. Pada laga pamungkas melawan Strasbourg, Marseille takluk 0-1. Benbarek yang cedera kepala pada laga itu harus puas dengan status peringkat kedua.

MENOLAK MAIN

Usai Perang Dunia II, Benbarek diikat oleh Stade Francais. Dari sejumlah sumber, disebutkan transfer Benbarek saat itu mencapai satu juta franc dan menjadi rekor saat itu.

Benbarek menjadi idola baru di klub barunya. Dia membawa timnya finis Ligue 2 sehingga berhak promosi ke Ligue 1.

Euforia menyambut penampilan di kasta tertinggi Liga Prancis begitu tinggi. Pada laga pertama Ligue 1 musim 1946-47, kandang Stade Francais penuh sesak. Para penonton dan pemain begitu bersemangat. Tapi, tak ada sosok Benbarek saat itu.

“Ini bulan Ramadan,” demikian bunyi telegram Benbarek kepada ofisial klub soal ketidakhadirannya.

Pihak klub memaklumi Benbarek. Saat Ramadan berakhir, Benbarek kembali tim sebelum hijrah pada musim panas 1948.

DIPOLES HERRERA

Tampil produktif bersama klub yang kini berkutat di Divisi Amatir Le Championnat itu, membuat Benbarek dipikat Atletico Madrid. Pada 1948, dia berlabuh di rival sekota Real Madrid itu dengan nilai transfer 8 juta franc.

Kepindahan ke Atletico itu bukan tanpa kendala. Saat itu, Los Rojiblancos merupakan klub yang dipuja Jenderal Franco, diktator Spanyol – sebelum beralih dukungan ke Madrid pada 1950-an. Franco sejatinya tak terlalu suka ada pemain Eropa lain yang bermain di Spanyol. Terlebih berasal dari Prancis yang sempat bersitegang soal Maroko. Akan tetapi, aksi Benbarek meluluhkan sikap keras sang jenderal.

Pada musim pertama Benbarek di Spanyol, Atletico memang hanya finis di posisi keempat di belakang Barcelona, Valencia, dan Madrid. Tapi pada musim berikutnya, Benbarek mempersembahkan trofi La Liga pertama bagi klubnya.

Salah satu faktor yang membuat Benbarek bisa langsung menyatu dengan Atletico adalah keberadaan Helenio Herrera di kursi pelatih. Pria asal Argentina yang lebih tua empat tahun dari Benbarek itu paham dengan bahasa dan kultur Prancis lantaran pernah bermain dan melatih di Stade Francais. Herrera jualah yang memboyong kembali Benbarek dari Afrika.

Di Spanyol, julukan Benbarek tak berubah. Tetap “Perla Negra”. Tapi, dia mempunyai beberapa julukan lain seperti “El Prodigio”. Ada juga yang menyebutnya “Si Kaki Tuhan” lantaran kelincahannya.

“MENGKHIANATI” MAROKO

Penampilan apik di klub membuat Benbarek dipanggil ke skuad Prancis. Mengapa Prancis? Sebab, Maroko belum memiliki asosiasi sepak bola independen hingga 1955.

Debutnya berseragam Les Bleus terjadi pada 4 Desember 1938. Prancis kalah 0-1 dari juara dunia Italia.

Pada 22 Januari 1939, Benbarek menjalani laga kedua bersama timnas. Menghadapi Polandia di Parc des Princes, dia menyumbang tiga dari empat gol kemenangan negaranya.

Karier Benbarek di timnas pun tak mulus. Beberapa kali dia mengalami penolakan. Namun, berkali-kali jua dia dipanggil kembali ke Les Bleus setelah pelatih mendapatkan tekanan publik. Tapi, dia sama sekali tak bermain pada laga kompetitif.

Pada 7 Oktober 1954, Benbarek tampil pada laga amal penggalangan dana korban gempa bumi Aljazair yang menewaskan hampir 1.500 jiwa. Pertandingan itu mempertemukan timnas Prancis yang tampil di Piala Dunia 1954 melawan tim dengan panji Afrika Utara. Benbarek yang membela Afrika Utara harus mengakui keunggulan Les Bleus dengan skor 3-2.

Penampilan Benbarek yang telah berusia 40 tahun pada laga amal itu membuat publik Prancis memaksa pelatih Jules Bigot memanggilnya ke timnas. Kariernya di timnas sepanjang 15 tahun 10 bulan dengan 19 penampilan dan tiga gol ditutup pada 17 Oktober 1954. Menghadapi juara dunia Jerman Barat di Hannover, Benbarek tak berkutik lantaran hanya tampil setengah jam sebelum cedera.

Benbarek akhirnya bisa “membela” Maroko pada 1957. Dia menjadi pelatih pertama negara tersebut, dua tahun setelah Asosiasi Sepak Bola Maroko (FRMF) berdiri.

TUHAN SEPAK BOLA

Selepas dari Atletico, Benbarek yang telah berusia 39 tahun kembali ke Marseille pada 1953. Kepindahannya juga buah ketidaksengajaan. Pada Desember 1953 ketika mengikuti kursus kepelatihan di Paris, dia bertemu dengan Jean Robin, pelatih Marseille.

Juni 1955 menjadi akhir perjalanan Benbarek di Eropa. Dia kembali ke Negeri Maghribi. Sempat membela klub Aljazair, Sidi Bel Abbes, Benbarek akhirnya memutuskan mundur dari lapangan hijau ketika ditunjuk menjadi pelatih timnas Maroko untuk jangka waktu yang singkat.

Pada pertandingan antarnegara Arab 1957, Benbarek membawa Maroko menjadi juara. Dia kembali lagi melatih timnas pada 1960 namun kemudian dipecat oleh FRMF.

Pada 1967, dia sempat ditawari melatih Sidi Bel Abbes, tapi tak sukses. Setelah itu, dia benar-benar mundur dari gelanggang sepak bola.

Baru pada 1973, Benbarek kembali ke lapangan hijau pada laga reuni. Maret 1975, dia tampil pada laga seremonial di Casablanca menghadapi juara dunia tiga kali, Brasil. Benbarek yang sudah berusia 51 tahun menghadapi raja sepak bola, Pele, yang lebih muda 16 tahun.

Usai laga, Pele memberikan medali emas dan kostum Santos bernomor 10 kepada Benbarek. “Jika saya adalah raja sepak bola, Benbarek merupakan tuhannya,” sanjung Pele.

AKHIR TRAGIS

Kehidupan pascapensiun Benbarek sangatlah jauh dari mewah. Air mata dan kesendirian lebih sering menghampirinya. Terutama setelah ditinggal Louisette, sang istri, yang telah menemaninya 26 tahun pada 1976.

Kegemilangan Benbarek seolah mulai terlupakan. Pada 1982, keinginan Benbarek menyaksikan laga Piala Dunia di Spanyol tak mendapatkan dukungan dari FRMF maupun pemerintah Maroko.
Piala Afrika 1988 yang dilangsungkan di Maroko pun melupakan sosok sang legenda. Tak ada nama Benbarek dalam daftar tamu kehormatan.

Sikap berbeda justru diterima Benbarek dari negara lain. Pada peringatan 30 tahun Asosiasi Sepak Bola Aljazair (FLN), Sang “Mutiara Hitam” menyediakan karpet merah. Di Aljazair jualah dia seharusnya mendapatkan penghargaan dari Federasi Sepak Bola Afrika (CAF) atas jasa-jasanya. Tapi, dia batal hadir karena FRMF lupa menyiapkan dokumen imigrasinya.

Pada 16 September 1992, Benbarek ditemukan meninggal di kamar tidurnya. Ironis lantaran hasil visum membuktikan bahwa dia telah wafat tiga hari. Sebuah akhir tragis bagi “Tuhan Sepak Bola”.

FIFA pun seolah alpa memberikan penghargaan khusus. Baru delapan tahun setelah kematiannya, Benbarek mendapatkan penghargaan tertinggi dari otoritas sepak bola dunia itu.

Posted in menbal | 1 Comment

Pilih Bayern, Guardiola Cari Aman

Teka-teki soal masa depan Josep Guardiola akhirnya terjawab. Rabu (16/1), eks pelatih Barcelona itu memilih Bayern Munchen sebagai klub barunya. Sosok yang akrab disapa Pep itu akan dikontrak Bayern hingga musim panas 2016.

Josep Guardiola dikabarkan menandatangani kontrak dengan Bayern Munchen di New York. Dia dikontrak hingga 2016. (Foto: Getty Images)

“Guardiola merupakan sosok yang akan berkontribusi besar. Tak hanya bagi Bayern, pun sepak bola Jerman,” kata Karl Heinz Rummenigge, Chairman Bayern.

“Hanya pelatih sekaliber Guardiola yang pantas menggantikan Jupp Heynckes,” tambah Presiden Bayern, Uli Hoeness.

Dua petinggi Bayern itu benar. Klub berjuluk FC Hollywood itu merupakan rumah yang cocok bagi Guardiola, setelah keluar dari Barcelona.

Pertama, secara filosofi permainan, Bayern sudah menerapkan sepak bola atraktif. Filosofi tersebut juga tak lepas dari sentuhan Louis van Gaal, eks pelatih El Barca yang juga pernah memoles Guardiola.

Faktor kedua terkait dengan materi pemain. Seperti halnya Barcelona, Bayern punya akademi yang bagus. Para pemain muda bergantian muncul setiap tahunnya.

Secara finansial pun Bayern sanggup membeli pemain bintang yang (mungkin) diingankan Guardiola. Sumber daya yang dimiliki Bayern itu tak dimiliki oleh klub seperti AC Milan yang sebelumnya pernah diberitakan tertarik mendatangkan Guardiola namun tak kuasa memenuhi bujet transfer 80 juta euro yang disyaratkan.

Bukankah Chelsea juga punya sumber daya besar, bahkan jauh lebih melimpah, dibandingkan Bayern? Benar, tapi ada faktor ketiga yang tak dimiliki oleh klub yang dimiliki Roman Abramovich itu. Kebebasan.

Guardiola merupakan sosok yang ingin memiliki kewenangan besar dalam mengatur pemain. Tak mau direcoki oleh petinggi klub. Syarat itu jelas tak dimiliki The Blues. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Abramovich kerap ikut campur dalam pembelian pemain. Bahkan terkadang, memaksakan nama tertentu untuk dimainkan. Itu yang pasti takkan selaras dengan Guardiola.

Manchester City pun sebenarnya punya potensi sebagai tempat yang cocok bagi Guardiola. Akademi The Citizens sudah berjalan baik, bahkan akan semakin besar dengan pengembangan pusat latihan yang baru. Klub milik Sheikh Mansour itu punya sumber daya finansial tak terbatas yang bisa memuluskan Guardiola untuk belanja pemain.

Lantas, kenapa tak memilih Man. City? Terlepas dari pendekatan yang belum dilakukan oleh manajemen The Citizens, putusan untuk tidak memilih Premier League bisa jadi datang dari Guardiola.

Bisa saja Guardiola “takut” reputasinya akan tercoreng jika memilih Man. City. Dengan tingkat persaingan Premier League yang demikian tinggi, perebutan gelar juara diperebutkan tidak hanya oleh dua tim. Bisa lima bahkan enam tim akan bersaing ketat dalam menembus papan atas. Dengan begitu, peluang Guardiola untuk membawa timnya menjadi juara tidaklah terlalu besar.

Situasi seperti itu jelas belum pernah dirasakan Guardiola sebelumnya. Dia diangkat menjadi manajer Barcelona dengan tim yang sudah “jadi” dan tingkat persaingan bipoli lantaran hanya akan bertarung dengan Real Madrid. Tentu secara perhitungan peluang juara menjadi 50-50.

Kondisi yang sama terjadi di Bundesliga 1. Tanpa meremehkan kemampuan tim lain dan kejutan yang kerap terjadi, persaingan di kasta tertinggi Liga Jerman itu dalam 2-3 tahun terakhir hanya akan terjadi antara Bayern dan Dortmund. Situasi seperti itu sama persis dengan yang terjadi di Liga BBVA.

Dengan Bayern yang begitu digdaya musim ini dan meninggalkan jauh para pesaing termasuk Dortmund, Guardiola telah melakukan pilihan yang tepat. Bukan hanya Guardiola yang akan membantu Bayern menjalani momen kesuksesan. Bayern pun akan menolong Guardiola menjaga reputasinya, sebagai pelatih yang selalu menghadirkan gelar juara pada setiap musimnya.

Bisa jadi pula, Bayern akan menjadi uji kelayakan bagi seorang Guardiola. Sudah menjadi rahasia umum, julukan FC Hollywood disematkan karena tim tersebut punya banyak bintang berego besar. Jika bisa melaluinya dan membawa Bayern sukses, Guardiola akan merasa pe-de untuk merasakan tantangan di liga mayor Eropa lainnya. Menjadi suksesor Sir Alex Ferguson di Old Trafford-kah?

Posted in menbal | Leave a comment

Pekerjaan itu seperti pacar

“Love your job but don’t love your company. Because you may not know when your company stops loving you.” (Dr. Abdul Karim)

Sebuah petikan yang menarik. Saya pun cukup setuju dengan pernyataan sang doktor.

Cukup setuju? Yup, saya cukup mengatakan cukup. Untuk mengatakan sepenuhnya setuju, saya menggelengkan kepala.

Mungkin ada beberapa contoh untuk membuktikan bahwa pernyataan itu tak sepenuhnya benar. (Saya pun tak pantas dijadikan contoh karena saya tipe penakut mengambil risiko atau istilah kerennya risk averse).

Tapi, ada beberapa orang yang setia dengan pekerjaan dan perusahaan tempatnya bekerja. Salah satunya adalah S.

Di tempatnya bekerja, sudah beberapa kali S mendapatkan perlakuan yang dianggapnya tidak adil, setidaknya menurut pendapat dia. Tapi, pada akhirnya, dia selalu mengalah.

“Aku sudah terlalu cinta,” tutur dia. Padahal, dia bisa saja pindah mengingat kemampuannya yang menurut saya luar biasa, pantas menjadi pakar di bidangnya.

Demikian pula dengan sepupu saya yang bernama G (Hahaha pasti bingung, karena 12 dari 21 sepupu saya berawal dari G) yang bekerja di salah satu BUMN.

Berstatus salah satu lulusan terbaik dari universitas negeri terkemuka, dia sempat mendapatkan tawaran dari sejumlah kompetitor tempatnya bekerja.

“Saya dibesarkan oleh perusahaan ini. Jika saya keluar, apa yang bisa saya sombongkan? Sudahkah saya bisa dianggap menjadi ahli di bidangnya? Belum tentu. Masih banyak orang di luar sana yang pasti jauh lebih baik dari saya,” tutur dia.

Terlihat G tidak berambisi dan takut mengambil risiko? Mungkin saja. Tapi, satu yang saya gariskan adalah kerendah hatian dia.

Saya menganggap dia merupakan pakar di bidangnya. Sejumlah penghargaan diterimanya. Tapi, dia menilai itu belumlah membuatnya pantas untuk dianggap menjadi pakar.

Mencintai pekerjaan memang bukan berarti mencintai perusahaan tempat memberikan kerja. Itu pernyataan Dr. Abdul Karim.  Tapi, saya pun punya kutipan buatan sendiri soal pekerjaan.

“Pekerjaan itu sama seperti pacar, istri, atau pasangan hidup. Kalau ada yang lebih cantik dan menawarkan kepuasan lebih baik, kenapa tidak ganti? Kecuali, kamu sudah cinta dengan pasangan hidup kamu yang sekarang!”

Kutipan ngawur ala saya itu mungkin menjelaskan mengapa S dan G tetap bertahan, bagaimanapun “jeleknya tampang” tempat kerjanya saat ini dan godaan yang muncul di luar sana.

Analogi pada kutipan saya itu pun saya temui dari salah satu pengusaha yang konon merupakan salah satu dari tujuh naga di Asia, F yang biasa disebut CF atau FT.

F punya istri pertama. Namun, laiknya pria berduit, dia kerap berganti pacar. Beberapa kali perempuan selebriti digandengnya, entah sepengetahuan sang istri atau tidak.

Istri pertama F tak ubahnya hidup di menara gading. Tapi, tak ada hasrat dari F untuk menceraikannya.

“Saya bisa sukses seperti ini karena dia. Dialah sumber keberuntungan saya,” tutur F dalam sebuah kesempatan kala saya menyambangi rumah dia untuk bertemu anaknya, yang merupakan teman main.

Istri pertama merupakan sumber keberuntungan dan awal kesuksesan F. Hal itu pun tampaknya dirasakan G yang menganggap BUMN tempatnya bekerja sebagai “istri pertamanya” sebagai biang kesuksesan.

Cinta pada profesi memang bukan berarti cinta pada pekerjaan tempat kita bekerja. Tapi, ada benang merah di antara dua hal itu.  Demikian pyla dalam hal hidup berpasangan.

Lalu, boolehkah kita bermain api tapi tanpa melupakan pasangan hidup yang utama? Hmmm… #eh

Posted in harewos | Leave a comment

Pelajaran dari Ultras Malaya

“Tak boleh (bisa). Kami tak mau diwawancarai wartawan Indonesia,” kata salah seorang pentolan Ultras Malaya yang coba saya wawancarai di depan Stadion Bukit Jalil, Sabtu (1/12), jelang laga pamungkas Grup B Piala AFF 2012 antara Indonesia dan Malaysia.

“Media di Indonesia (sambil menyebut salah satu portal berita di tanah air) telah menjelek-jelekkan kami. Itu dilakukan tanpa konfirmasi lebih dulu,” tambah rekannya. “Jika mau tahu tentang sejarah berdirinya Ultras Malaya, buka saja Wikipedia!”

Ultras Malaya berkumpul jelang laga Malaysia vs Indonesia. (Foto: Jalu/SOCCER)

Kegeraman pentolan Ultras Malaya – yang enggan menyebutkan namanya, tak lepas dari berita yang beredar di Indonesia. Pada artikel yang terdapat di media tersebut, disebutkan bahwa Ultras Malaya terlibat dalam pemukulan terhadap suporter Indonesia pada matchday sebelumnya.

Padahal, belum tentu pelakunya adalah anggota Ultras Malaya. Bisa saja oknum suporter Malaysia lain karena sama-sama mengenakan baju hitam-kuning yang merefleksikan timnas Malaysia.

Saya pun cukup mengerti dengan sikap mereka. Dalam situasi ramai dan padat jelang pertandingan, jangankan suporter yang dua timnya merupakan rival. Sesama suporter dengan bendera tim yang sama pun bisa saja terlibat friksi lantaran pelbagai hal.

Terlebih, saya sama sekali tidak melihat ada wartawan dari media yang disebutkan itu di lokasi. Bisa jadi informasi yang didapat soal friksi tersebut hanya dari korban, yang juga belum tentu tahu betul apakah yang menyerangnya adalah anggota Ultras Malaya atau fans Malaysia biasa.

Siapa pun yang melakukannya, jelas itu adalah oknum karena toh sebagian suporter yang lain merasa aman-aman saja. Malah, aku seorang teman, sejumlah dirigen Ultras Malaya menunjukkan sikap menjura ketika ada suporter Indonesia yang masih berdiri di pagar pembatas tribun untuk memberikan aplaus kepada Andik Vermansah cs usai kalah 0-2 dari Malaysia. Ketika sebagian suporter Indonesia bersikap yang lain bersikap realistis dan meninggalkan bangku penonton beberapa menit sebelum laga usai.

Bagaimana soal nyanyian fans Malaysia yang menjelek-jelekkan Indonesia? Saya pribadi secara jujur tak terima negara ini dihina-dina oleh mereka. Tapi, saya pun kembali bertanya, “Apakah saya dan juga suporter di Indonesia tak pernah mengata-ngatai Malaysia?” Bukankah kita pun sering menjelek-jelekkan dan memplesetkan nama negara Malaysia?

Lagipula, bukankah lazim suporter sebuah tim melakukan teror dengan menjelek-jelekkan lawannya? Hal yang berlaku di klub tersebut tentu juga berlaku untuk pertandingan level internasional. Begitu juga dengan aksi lempar-lemparan antarsuporter. Toh, budaya itu sudah terbentuk dari liga di Indonesia sendiri.

SEMUA SAMA

Saya coba menepikan dulu soal adanya kasus bentrokan dan nyanyian sindiran itu. Saya pun tak mau mengambil sikap untuk menempatkan siapa yang benar dan salah pada laga tersebut Saya tertarik dengan keberadaan Ultras Malaya yang mendukung timnas Malaysia.

Kaos khusus yang dibuat pendukung Malaysia untuk Piala AFF 2012. (Foto: Jalu/SOCCER)

Kendati tak mau diwawancarai, pentolan Ultras Malaya itu tetap mau melanjutkan obrolan dengan saya. Dia pun bercerita bahwa dirinya merupakan pendukung Selangor FA. Sebagai fans, dia sangat menyanjung Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy yang pernah membawa klub tersebut meraih treble winners pada 2005.

“Sejak Bambang dan Elie pindah, Selangor tak pernah lagi meraih juara Malaysia Cup. Kalau Premier League pernah dua kali,” kenangnya.

Dia pun bercerita soal Ultras Malaya. “Di kami, tak ada yang namanya ketua. Semua sama. Siapa pun boleh bergabung. Jumlah member sudah lebih dari 10 ribu,” lanjutnya.

Berdasarkan saran rekan Ultras Malaya itu, saya pun mencari tahu melalui Wikipedia. Sejak dibentuk pada 2007 – bermula dari situs www.harimaumalaya.com, Ultras Malaya dibentuk untuk memberikan dukungan langsung kepada timnas Malaysia. Tak peduli prestasi Harimau Malaya tengah terpuruk atau menanjak, mereka tetap bersuara lantang untuk memberikan dukungan.

Salah satu puncak prestasi mereka terjadi pada Piala AFF 2010. Mereka menjadi penyokong keberhasilan Safee Sali cs menang 3-0 atas Indonesia, yang berujung pada gelar juara. Keberhasilan itu membuat jumlah anggota Ultras Malaya terus meningkat.

SATU SUARA

Keberadaan Ultras Malaya itu memacu antusiasme penonton awam untuk mendukung timnas Malaysia langsung ke stadion. Malah, mereka bisa menularkan yel-yel dan nyanyian yang sama ke seluruh tribun Stadion Bukit Jalil.

Itu saya lihat begitu luar biasa. Kebetulan, saya menjadi saksi koreografi mereka pada final Piala AFF 2010 dan fase grup Piala AFF 2012. Dalam tempo dua tahun, perkembangan kreativitas Ultras Malaya begitu pesat.

Misalkan saja, saat lagu kebangsaan “Negaraku” dikumandangkan, mereka ramai-ramai menaikkan Jalur Gemilang (bendera Malaysia) hingga hampir menutupi seluruh tribun. Beberapa spanduk lain yang menunjukkan loyalitas mereka sebagai penyokong Ultras Malaya pun dinaikkan.

Aksi Ultras Malaya ketika Negaraku dikumandangkan. (Foto: Jalu/SOCCER)

Salah satu yang menarik adalah ketika melakukan koreografi dengan mengangkat syal. Diiringi teriakan “Oooooo” seluruh penonton mengangkat pelan-pelan syal kuning-hitam atau Jalur Gemilang. Saat tangan sudah mencapai puncak, mereka dengan lantang meneriakkan “Ma… Lay… Sia…” sambil menggerak-gerakkan syalnya.

Jujur, situasi itu membuat saya yang bertindak sebagai tamu (meski bukan pemain) merinding. Dengan kemiringan tribun yang curam plus warna dominan kuning-hitam, Stadion Bukit Jalil menyerupai Westfalen (Signal Iduna Park) yang menjadi kandang Borussia Dortmund. Para penonton tak ubahnya lebah-lebah yang siap menyengat dan meneror pemain lawan yang coba mengganggu sarangnya. Sebuah teror bagi setiap tim yang datang.

“Pemerintah Malaysia dan media-media di sini memang telah lama mensosialisasikan soal bentuk dukungan kepada timnas. Mereka harus datang dengan atribut yang sama dan memberikan dukungan yang sama,” cerita Khairul, salah seorang wartawan dari radio Malaysia yang datang ke Bukit Jalil dengan seragam pertama Harimau Malaya.

BAGAIMANA, SUPORTER INDONESIA?

Satu hati, satu warna, dan satu suara. Mungkin itulah salah satu pelajaran yang dipetik dari Ultras Malaya. Ketika timnas tengah terpuruk, mereka memang melakukan kritik keras. Tapi, hal tersebut tak membuat mereka mundur dalam mendukung perjuangan Harimau Malaya.

Saat datang ke stadion, atribut-atribut kelokalan pun ditanggalkan. Mayoritas mereka datang ke Stadion Bukit Jalil dengan mengenakan kostum hitam-kuning, meski Malaysia jarang lagi menggunakannya. Spanduk dan panji yang mereka bawa ke stadion pun murni bentuk dukungan terhadap perjuangan timnas.

Begitu juga dengan yel-yel yang diteriakkan. Meski sebagian chants yang diteriakkan mirip dengan suporter di Indonesia, aksi yang ditunjukkan Ultras Malaya itu telah membuat saya kagum. Mereka satu suara dalam membela timnas. Ketika satu chants dinyanyikan, seluruh tribun pun akan menggemakannya. Tak ada suporter yang tak ingin kalah suara, menyanyikan chants yang berbeda.

Tiga hal itu tentunya bisa dijadikan pelajaran oleh suporter Indonesia dalam memberikan dukungan. Meski berasal dari rival, jika memang ada pelajaran positif yang bisa dipetik, kenapa tidak diterapkan?

Situasi persepakbolaan Indonesia memang tengah mengalami konflik. Namun timnas sebagai sebuah puncak piramida sepak bola di negeri ini, tetap patut mendapatkan dukungan. Seperti tertulis di spanduk pendukung Malaysia, “Busuk-busuk pahlawanku”. Jika diterjemahkan secara harfiah, maknanya bisa menjadi siapa pun pemain yang ada di lapangan, tetaplah memakai lambang atau bendera negara di dada kiri dan pantas mendapatkan dukungan.

Begitu juga soal dukungan langsung di stadion. Sikap satu suara yang ditunjukkan Ultras Malaya dan suporter Malaysia lain bisa dijadikan contoh. Toh dengan suara yang seragam, bukankah chants akan semakin enak didengar? Tentu saja akan semakin membuat para pemain timnas termotivasi sekaligus menggetarkan nyali lawan yang bertandang.

Suporter Indonesia merahkan satu tribun Bukit Jalil. (Foto: Jalu/SOCCER)

Suporter Indonesia yang hadir langsung di Bukit Jalil sudah bisa memberikan contoh. Meski berasal dari pelbagai daerah, komunitas, dan status, mereka tetap satu suara dalam melantangkan teriakan. Akan semakin indah jika hal itu bisa dirasakan di Gelora Bung Karno, stadion kebanggaan Indonesia.

Sampai jumpa di pertandingan timnas selanjutnya!

Posted in menbal | 92 Comments

Diego dan Om Tong: Sama di Awal, Beda di Akhir

Menarik menyimak kisah Diego Michiels. Jelang Piala AFF 2012, dia menjadi berita utama di sejumlah media nasional. Bukan karena prestasinya di lapangan hijau, melainkan kasus pemukulannya pada suatu malam ketika timnas hendak melakukan persiapan jelang tampil di Piala AFF.

Diego Michiels mendapatkan keistimewaan yang tak didapat Tong Sin Fu. (Foto: Dok. DuniaSoccer)

Diego pun merajuk untuk bisa dibebaskan dari tuntutan hukum dari korban penganiayaan. Dalih sang pengacara, agar kliennya bisa membela Tim Merah Putih untuk berlaga di Piala AFF.

“Ada aturan bahwa sebuah tim yang bertanding di turnamen internasional harus bermaterikan 23 pemain. Jika Diego tak bisa tampil, Indonesia bisa kena sanksi FIFA,” jelas pengacara perempuan yang cukup sering menjadi penasihat hukum selebritis Indonesia.

(Pernyataan yang cukup aneh dan menggelitik dan menunjukkan bahwa pengacara tersebut tak paham betul aturan di sepak bola. Mana ada sebuah negara disanksi karena tak bisa menyertakan 23 nama untuk tampil di sebuah turnamen resmi. Kalaupun tidak bisa, apalah susahnya mencari tambahan satu pemain untuk memenuhi kuota?)

Terlepas dari usaha sang penasihat hukum dan beberapa pihak yang ingin Diego selamat atau setidaknya mendapatkan penundaan hukuman, kasus penganiayaan tersebut sangatlah miris. Apa pun dalih Diego, sikapnya itu jelas tak seharusnya ditunjukkan seorang pemain berlabel timnas.

Keluar malam ketika tim sedang persiapan dan tak bisa menahan emosi dengan melakukan pemukulan sangatlah bertentangan dengan nilai-nilai sportivitas. Pemain naturalisasi yang harusnya bisa dijadikan contoh bagi pemain asli Indonesia, justru malah menunjukkan sikap kurang pantas.

BEDA NASIB

Sepak bola seolah menjadi anak emas di negeri ini. Proses naturalisasi seolah menjadi gampang ketika prestasi instan begitu didewakan. Dimulai ketika zaman Nurdin Halid sebagai pemegang tampuk pimpinan PSSI, perburuan pemain asing dan berdarah Indonesia demi mengejar prestasi.

Situasi itu amat berbeda dengan cabang lain. Ambil contoh bulu tangkis. Kurang berjasa apa Tong Sin Fu sebagai pelatih bulu tangkis Indonesia. Dialah sutradara dibalik kejayaan era tepok bulu Indonesia pada awal 1990-an.

Sosok kelahiran Lampung pada 13 Maret 1942 itu melahirkan pebulu tangkis generasi Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, hingga Susi Susanti. Ketiganyalah yang mengharumkan Indonesia di Olimpiade 1992 dengan tampil di final dan mempersembahkan medali.

Melihat jasanya yang begitu besar, Tong lantas mencoba mengajukan permohonan untuk menjadi warga negara Indonesia. Malang nasib Om Tong, dia ditolak. Dia pun kembali ke Cina.

Tangan emas Om Tong tak habis meski sudah berusia uzur. Lewat tangannyalah, dunia bisa melihat pebulu tangkis paling atraktif di muka bumi saat ini, Lin Dan. Saking berjasanya Tong, pebulu tangkis nomor satu dunia itu selalu mendedikasikan kemenangannya bagi sang pelatih.

Cobalah berandai-andai… Bayangkan Om Tong masih di Indonesia, setidaknya kita bisa berharap bulu tangkis di Indonesia tidak mengalami titik nadir seperti saat ini.

Coba bayangkan pula ketidakadilan yang dialami Om Tong dengan keistimewaan yang didapatkan Diego. Belum juga menghadirkan prestasi apik bagi negeri ini, Diego sudah punya status WNI. Sementara Om Tong yang lahir di negeri ini dan berjasa mengantarkan sejumlah atlet menjadi juara di bulu tangkis, sungguh sulit untuk mendapatkan haknya.

Hal yang membuat ironis, ada benang merah antara kehadiran Diego dan Om Tong di Indonesia. Kali pertama Diego datang tak lepas dari andil Keluarga Bakrie. Terbukti klub yang pertama mengontraknya adalah Pelita Jaya.

Begitu juga dengan Om Tong. Kembali ke Indonesia pada 1986, dia menjadi pelatih bulu tangkis di klub Pelita Jaya. Setelah itu, barulah dia ditarik ke pelatnas Cipayung.

Kesamaan awal perjalanan itu tak punya akhir yang sama. Om Tong berjasa melahirkan pebulu tangkis andal namun gagal mendapatkan status WNI.  sementara Diego……..

Posted in menbal | 1 Comment

Untuk Gadis Kecil Ayah

2 Oktober 2012

Hari ini, tepat satu tahun usia Gzifa Manah Puspawungu. Tak terasa, bayi kecil itu kini sudah menjadi anak batita alias bawah tiga tahun.

Gzifa Manah Puspawungu

Genap satu tahun ini, saya merasa sedikit “berdosa” kepada Gzifa. Tak lama setelah sang kakak, Gentza Manah Wirabuana, lahir, saya langsung mengupdate blog untuk menjelaskan arti nama anak pertama saya itu. Sementara Gzifa, sudah satu tahun tepat belum membeberkan arti nama yang terkandung di dalamnya.

Dimulai dari penggunaan huruf awal G. Sesuai perjanjian dengan para saudara sepupu satu klan, kami memang sepakat untuk memberi nama anak dengan menggunakan kata yang berawalan huruf G.

Ketika istri mengandung Gentza, sebenarnya saya sudah menyiapkan nama andaikata bayi yang lahir adalah perempuan. Nama itu adalah Grania yang bermakna cinta yang mesra. Akan tetapi, tahun lalu saya merasa nama itu tak cocok untuk disematkan pada anak kedua saya.

Akhirnya, saya pilih kata Gzifa sebagai nama depan anak perempuan saya. Diambil dari salah satu bahasa di Afrika, kata itu bermakna damai. Sama seperti arti kata Gentza yang diambil dari bahasa Basque.

Kata kedua kami ambil dari bahasa Sunda. Dan memang sudah keinginan saya pribadi untuk menggunakan bahasa ibu pada salah satu unsur nama dari anak kami. Manah sendiri berarti hati atau kalbu.

Sementara untuk kata ketiga, saya menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Jawa. Bahasa Jawa digunakan untuk mengingat almarhum Ayah yang memang mempunyai masa kecil di Pasuruan. Kata puspa diambil dari padanan dua suku kata pertama dari nama terakhir ibunya.

Secara harfiah, puspa berarti bunga dan wungu merupakan tembung kriya yang berarti bangun. Jika disatukan menjadi bunga yang bangun (pada pagi hari), merujuk pada kelahiran Gzifa saat matahari terbit.

Jadi, secara keseluruhan, harapan saya sebagai orang tuanya menamakan anak perempuan saya itu adalah: Kedamaian di hati yang didapat dari bunga yang bangun/mekar di pagi hari.

Semoga Gzifa bisa menjalankan amanat sesuai dengan nama yang diembannya itu. Amin…

Selamat ulang tahun, gadis kecil ayah…  Maafin ayah yang telat menjelaskan arti namamu dan tak bisa menemani langsung ulang tahun pertamamu.

Posted in harewos | Leave a comment

Kurang Waktu, Kurang Energi, Gak Mood

Sudah hampir empat bulan blog ini tak pernah saya sentuh. Beragam kesibukan, terutama terkait pekerjaan, membuat blog ini seakan menyanyikan lagu “Bang Toyib” kaena tak pernah dijamah.

Jujur, saya suka menulis – lha wong kerja harian saya pasti harus menulis toh?. Tapi untuk blog ini, saya sering kehabisan ide untuk dituangkan.

Kenapa enggak segala hal yang berbau sepak bola? Kan sehari-hari pun menulis bola?

Mungkin pertanyaan itu bakal dilontarkan. Tapi menurut saya, ada hal berbeda yang bisa ditulis sebagai sebuah artikel di tabloid tempat saya kerja dan hal-hal yang bisa dituangkan di blog.

Ada perbedaan besar antara menulis di blog dan di tabloid. Di tabloid, karena memang pekerjaan sebagai wartawan, sudah menjadi kewajiban saya untuk menulis. Melalui sebuah mekanisme, ada hal yang harus dan pasti saya tulis. Hal tersebut menjadi sebuah keteraturan.

Lain halnya dengan di blog. Butuh lebih dari sekadar bahan untuk menulis di blog. Pun mood yang harus terjaga. Punya bahan banyak tapi mood tak mendukung, alamat susah untuk melakukan update.

Handicap lain adalah soal waktu. Tentu, tak satu hari penuh saya habiskan untuk mencari bahan dan menuliskannya. Harus ada waktu khusus bagi kebutuhan-kebutuhan lain di diri ini, misalkan istirahat atau hiburan.

Karena itulah, kadang saya merasa iri dengan rekan-rekan yang doyan ngeblog soal sepak bola. Mereka masih punya energi untuk bisa menuangkan khayalan, ide, dan opininya melalui tulisan di blog. Tak jarang, tulisan mereka lebih berwarna dari wartawan sepak bola.

Semoga saya punya waktu dan energi lebih banyak, mood yang selalu terjaga, dan tentu saja niat yang kuat untuk bisa menjaga kontinuitas blog ini.

Tabik

Posted in harewos | Leave a comment