Lampard Bernasib Seperti Okky

Kamis (31/5) bakal menjadi hari yang bakal diingat oleh Frank Lampard. Midfielder Chelsea itu harus melupakan mimpinya tampil berseragam Inggris di Euro 2012 yang mungkin akan menjadi turnamen antarnegara terakhir yang diikutinya. Lampard mengalami cedera paha. Tempatnya di The Three Lions pun harus dihibahkan kepada Jordan Henderson.

Bukan hanya Lampard yang merasa kehilangan. Roy Hodgson juga. Pelatih timnas Inggris itu mengatakan, “Ini kehilangan besar buat tim.”

Benar. Kendati sudah melewati ambang batas usia keemasan, kemampuan Lampard tak bisa diremehkan. Dia sukses membawa Chelsea menjadi juara Piala FA dan Liga Champions pada usia yang hampir menginjak 34 tahun.

Dibandingkan gelandang tengah lainnya, statistik Lampard musim ini bisa dikatakan yang terbaik di Inggris. Bahkan dari sang kapten, Steven Gerrard. Total 16 gol yang dilesakkannya dari 49 laga musim ini.

Cedera Lampard membuat stok gelandang tengah Inggris semakin minim. Sebelumnya, Gareth Barry telah lebih dulu dicoret karena cedera dan tempatnya digantikan oleh Phil Jagielka.

Perasaan yang dialami Hodgson saat mengetahui Lampard harus absen, sama dengan yang dirasakan saya, juga pada hari yang sama. Tanggal terakhir pada Mei 2012 ini, saya kembali harus kehilangan salah satu orang terbaik di DuniaSoccer, Okyy Herman Dilaga.

Mengapa saya katakan sebagai yang terbaik? Karena di DuniaSoccer tak ada reporter yang biasa-biasa saja. Semua adalah terbaik di mata saya, dengan karakteristik serta kelebihan-kekurangan yang dimilikinya. Bukankah memiliki karakter yang beragam akan membuat sebuah tim lebih berwarna? Itulah DuniaSoccer.

Seperti halnya Lampard, Okky adalah sosok gelandang kreatif yang tak kenal lelah. Saking dedikasinya sama pekerjaan, pernah kami berdua menghabiskan waktu liburan dengan begadang di sebuah kafe di luar kota demi memanjakan audiens DuniaSoccer akan kebutuhkan informasi. Padahal, awalnya saya hampir “tidak melihat” dia.

Medio 2010, saya menerima berkas seorang pelamar magang di meja kerja. Katanya keponakan dari salah satu karyawan yang berada satu divisi dengan redaksi saya. Melihat riwayat pendidikannya, saya mengernyitkan mata. “Apa hubungannya anak manajemen magang jadi reporter?” Lamaran itu pun saya anggurkan selama 1-2 bulan, hingga akhirnya sang paman membawa keponakanya ke redaksi.

Bocah yang datang dengan cengengesan itu kemudian memberikan contoh tulisan. Saya langsung terkejut. “Saya membuat keputusan yang salah,” gumam saya. Untuk seseorang yang bukan berlatar belakang jurnalistik, tulisan Okky terbilang bagus. Tak butuh banyak editan dari saya. Kemudian dimulailah perjalanan Okky sebagai freelance di SOCCER dan DuniaSoccer.

Kehadiran Okky membuat saya lega. Dengan armada empat orang – saya, Okky, Irawan Dwi Ismunanto, dan Scherazade “Adek” Mulia Saraswati, kami menjadi tim yang komplet, dan, sekali saya tegaskan, terbaik.

Kemudian tibalah saat yang tidak saya duga. Pada tengah malam, akhir November 2010, Adek bercerita kepada saya dan Irawan. Cewek penggemar balap motor, khususnya Valentino Rossi, itu memutuskan hengkang dari SOCCER.

Sebuah kehilangan yang cukup telak. Adek dengan segala feminismenya, telah memberikan warna pada artike-artikel di SOCCER dan DuniaSoccer. Siapa sangka ada cewek yang berani menuliskan hubungan antara kemampuan sepak bola dan ukuran alat vital laki-laki? Siapa pula yang kepikiran menggabungkan artikel sepak bola dengan deru knalpot di arena balap? Adek-lah orangnya.

Kehidupan harus terus berlanjut. Dengan armada tersisa, kami bertiga merumuskan langkah untuk menjaga kontinuitas dan kualitas berita. Di sinilah determinasi dan dedikasi Irawan dan Okky terlihat.

Ketika anak muda lain menghabiskan malam minggu dengan berkunjung ke pacarnya, Okky dan Irawan tetap bekerja menulis di DuniaSoccer. Sampai-sampai, Okky salah “kamar” dalam melakukan update Twitter.

Tweet “Malam minggu menghabiskan waktu lagi bersama @DuniaSoccer deh. Pantesan aja jomblo” yang seharusnya di-update di akun @oqynawa, malah menggunakan akun DuniaSoccer. Saking serius jualah, Okky dan Adek (yang sesekali membantu melakukan update) pernah terlibat dalam friksi lucu. Dinamika.

Kerja keras mereka pun terbayar. Di Group of Magazine Kompas Gramedia, DuniaSoccer menjadi juara di Social Media Year Award 2011. Perlahan tapi pasti, traffic dan follower DuniaSoccer tumbuh.

Seperti halnya pada akhir 2010, DuniaSoccer kembali harus kehilangan reporter terbaiknya. Okky “terpaksa” saya relakan bergabung dengan saudara tua di Grup Kompas Gramedia atas alasan nonteknis. Sebuah alasan yang kadang membuat geram kala memikirkannya karena secara kinerja, bisa dikatakan Okky pantas mendapatkan exceed expectation. DuniaSoccer pasti sangat kehilangan buat sosok pemilik email dengan nama “Oqnawa Indomie Gak Suka” itu.

Lantas, apa persamaan Okky dengan Lampard? Sama-sama harus melupakan Euro 2012 di tempat yang (mungkin) menjadi favoritnya. GBU.

Redaksi SOCCER dan DuniaSoccer, tempat di mana semua kegembiraan berada.

PS untuk @oqynawa:
Life must go on. Garis kehidupan sudah ada yang mengguratkannya. Pindah dari DuniaSoccer adalah langkah maju buat Okky. Sebuah jalan untuk mengembangkan karier.  Sekaligus, menjadi tantangan karena secara tidak langsung, kita akan “bersaing” secara sehat. DuniaSoccer, bermodal pasukan terbaik yang dimiliki pada sosok Irawan, Johanna Pauline, Redzi Arya Pratama, Yosua Eka Putra, Christian Anju, dan para kontributor di daerah, siap menerima tantangan itu.

Semoga sukses di tempat baru, Q… Rasa bangga saya dan rekan-rekan di SOCCER dan DuniaSoccer, tentu lebih besar daripada rasa kehilangan yang terjadi.

Posted in harewos | Leave a comment

Ketika Rasa Cinta Itu Luntur

Selayaknya orang Bandung, wajar apabila saya suka kemudian cinta dan mendukung Persib Bandung. Tim yang tak hanya menjadi ikon Kota Bandung pun Jawa Barat alias Tatar Sunda pada umumnya.

Kecintaan saya bermula sejak TK Nol Kecil. Meski kalah dari PSMS Medan di Senayan, saya kagum dengan penampilan Adjat Sudradjat cs. Rasa cinta itu dikuatkan ketika Persib menang atas PSM Makassar di semifinal Perserikatan 1989. Ade Mulyono sampai berdarah-darah pada laga yang berlangsung keras itu. Perjuangan mereka pun terbayarkan dengan menjadi kampiun usai mengalahkan Persebaya Surabaya.

Keberadaan Bandung Raya ketika format kompetisi berubah menjadi Liga Indonesia memang sempat membuat saya berselingkuh. Terlebih penampilan Peri Sandria dan Dejan Gluscevic sangat menggoda kala itu.

Toh, kecintaan Persib tetaplah ada. Meski sempat berkutat di papan bawah dan nyaris terdegradasi, tak membuat kecintaan saya berkurang.

Kehadiran pemain asing pada awal milenium baru memang sempat menggoyahkan hati saya. Jujur, rasa primordial yang saya miliki terlalu besar. Agak aneh saja, Persib yang identik dengan pemain lokal disusupi nama-nama asing. Tapi, itu pun hanya berlangsung sesaat. Saya bisa menerima kehadiran mereka dan bahkan melihat mereka punya manah atau hati warga Bandung.

Ketika saya menjadi wartawan, kesempatan saya untuk semakin dekat dengan pemain Persib kian terbuka. Sejak akhir 2004, saya mulai dekat dengan beberapa pemain. Termasuk pemain untuk level junior. Saya cukup bangga dengan mereka yang bisa tetap menembus tim utama meski sarat pemain asing dan pemain lokal yang berasal dari luar Jawa Barat.

Akan tetapi, saya merasakan ada hal yang aneh dalam 2-3 tahun terakhir. Saya merasa rasa cinta saya untuk Persib kian terkikis. Bahkan, cenderung tidak peduli. Memang, saya selalu ingin tahu dengan hasil yang diraih, tetap mencari berita terbaru, hingga berkomunikasi dengan sejumlah pemain.

Puncaknya, pada awal musim ISL 2011-12. Kepergian Eka Ramdani jujur saya telah membuat saya kecewa. Secara personal, saya memang cukup kecewa dengan putusan Eka meninggalkan Maung Bandung. Tapi setelah mendengarkan pemaparannya, saya bisa menerima.

“Kepastian merupakan hal yang paling diinginkan oleh seorang pemain. Ketika manajemen mengatakan akan segera memberikan penjelasan, saya menunggu.  Namun ternyata kepastian itu tidak ada,” cerita Eka pada hari pertama berita hengkangnya ke Persisam Samarinda menjadi pembicaraan.

Bobotoh yang kecewa dengan sikap dan tak tahu alasan di belakangnya bisa menuduh yang tidak-tidak. Dari menganggap Eka mata duitan hingga bersikap antipati termasuk kepada distro yang dikelolanya.

“Kalau mereka tahu, pengorbanan saya keluar dari Persib itu lebih besar. Meninggalkan usaha yang tengah dirintis dan terberat adalah meninggalkan keluarga, termasuk Persib” cerita Eka.

Di satu sisi, putusan Eka hengkang bisa jadi karena dirinya memang membutuhkan tantangan baru untuk menyegarkan diri. Tapi di sisi lain, tentu ada kealpaan yang dilakukan manajemen sehingga putra daerah seperti Eka harus pergi dari Persib.

Jeda kompetisi ISL 2011-12, kembali Persib harus kehilangan pemainnya. Wildansyah memutuskan mundur dari tim karena kalah bersaing dengan beberapa pemain baru yang didatangkan. “Saya cuma ingin cari pengalaman,” ucapnya lirih. Sebab, saya yakin dalam hatinya, Wildan tak punya keinginan untuk hengkang dari tim yang dipujanya sejak kecil.

Eka dan Wildan hanyalah satu dari sekian eksodus pemain asli yang terjadi di kubu Persib. Bersamaan dengan Eka saja, Persib melepas Jejen Zaenal Abidin hingga Munadi. Padahal, keduanya tampil terbilang cukup baik musim lalu.

Jika merunut ke belakang, sudah banyak pemain yang keluar dari Persib hanya karena manajemen terlalu ingin membuat Persib bertabur bintang. Masih ingat saat saya bertemu Usep Munandar saat baru pertama kali pindah ke PSMS. “Ah, saya mah bukan siapa-siapa. Enggak pantas gabung di tim bintang seperti Persib,” ungkapnya saat itu.

Kepergiaan pemain binaan asli itulah yang membuat rasa cinta saya kepada Persib mulai luntur, meski tak bakal hilang. Dalam anggapan saya, pemain binaan asli klub tentulah sebuah aset yang tak boleh disia-siakan. Sebab, merekalah sebenarnya yang punya “manah Persib” dan tahu arti sesungguhnya dari kata manah itu sendiri.

Dalam hati saya ini pun berteriak. “Kumaha rek ngabela lembur lamun teu boga manah? Siapa yang berani membela kampung halamannya dengan sepenuh hati? Tentu saja putra daerah yang sejak kecil sudah mencintai daerahnya itu sendiri.”

Begitu juga dengan sepak bola. Tanpa menafikan sosok para pemain profesional di luar sana, seorang pemain binaan, pasti akan punya hasrat yang lebih besar untuk turun berjuang membela klub yang dicintainya.

“Sebuah hal yang fantastis jika sebuah klub memiliki banyak pemain akademi di tim utamanya. Mereka akan merasa bermain untuk tim mereka sendiri. Saya pikir, pemain didikan akademi akan bekerja lebih keras jika mereka bermain di klub yang membesarkannya,” ujar Phil Cannon, Academy Manager Blackburn Rovers.

Dalam analisis saya, penampilan Persib yang terbilang labil dalam beberapa musim terakhir pun tak lepas dari mulai lunturnya “manah” di tim itu sendiri. Dan, “manah” itu tidaklah dibuat. Melainkan dilahirkan. Butuh proses untuk penciptaannya. Dan, itu sudah menjadi tugas seluruh manajemen tim. Bukan hanya menunjuk pelatih sebagai biang kerok penurunan performa.

Ingatan saya pun kembali ke perbincangan dengan Max Timisella, legenda Persib, pada 2006 di depan Sekretariat Persib di Jl. Gurame. “Zaman saya, pemain itu akan bangga membela Persib bukan karena ditawarkan uang yang besar. Melainkan karena memang kecintaan terhadap klub,” tutur mantan pemain yang sempat menjebol gawang Werder Bremen itu.

Sebagai bobotoh, orang Sunda, dan juga warga Bandung, saya tentu berharap Persib bisa kembali ke ciri utamanya. Sebagai klub yang mengedepankan potensi pemain binaan. Memang, untuk meraih prestasi, butuh waktu. Tapi – sekali lagi tanpa menafikan keberadaan pemain profesional, bermodal pemain binaan yang punya cinta yang demikian besar di manahnya, harapan untuk melihat Persib kembali disegani cukup terbuka. Jikapun gagal menjadi yang terbaik, saya akan tetap bangga lantaran para putra daerah sudah berjuang sepenuh hati membela kampung halamannya.

Jung maju Maung Bandung
Prak tandang muga sing meunang
Ulah ringrang tong hariwang
Kade poho cantik sportif di lapangan
(Alm. Kang Ibing)

Posted in menbal | Leave a comment

Semua Itu Bermula dari Mimpi

Pada pertengahan Maret lalu, ada sebuah mention yang saya terima dari teman di Twitter. Dia menanyakan, “Kang, boleh cerita soal perjalanan hidup hingga menjadi jurnalis?”

Sebuah pertanyaan yang mudah dijawab, tapi cukup sukar untuk diterangkan dengan kata-kata. Namun melalui media ini, akan saya coba bahas jejak langkah saya sehingga bisa menjadi jurnalis. Ketika saya menulis ini, saya hampir genap bekerja menjadi wartawan selama 8 tahun.

Cerita bermula dari kecintaan saya terhadap sepak bola. Final Perserikatan 1985 dan Piala Dunia 1986 menjadi momen pertama saya mengenal sepak bola dalam dan luar negeri.

Sejak saat itu, saya selalu intens mengikuti berita sepak bola. Setiap berita sepak bola, baik di tabloid olahraga atau koran harian, akan saya lahap. Tidak hanya berita dari liga-liga utama seperti kompetisi Galatama, Perserikatan, atau Liga Champions. Pun kompetisi amatir seperti kompetisi internal Persib Bandung maupun Galakarya.

Setelah pada 1986 hanya bisa mengenal sedikit, baru pada 1990 saya bisa mengikuti dengan rajin perkembangan Piala Dunia. Siaran pertandingan Italy 1990 tak pernah saya lewatkan. Jika tak bisa menonton, saya takkan ragu untuk membeli koran sore hari untuk bisa lebih cepat mengetahui hasil pertandingan semalam.

Pada saat itulah, saya punya mimpi sederhana. “Tampaknya enak menjadi wartawan olahraga. Bisa meliput Piala Dunia,” gumam saya saat itu.

Mimpi sederhana itu bisa jadi hanyalah salah satu dari cita-cita yang pernah saya lontarkan ketika ditanya oleh orang lain saat masih kecil. Karenanya, meski tetap menggilai sepak bola – untuk dibaca, impian menjadi wartawan hanya menjadi salah satu koleksi dari rak mimpi yang ada di pikiran saya.

Hal itu terlihat dari proses pemilihan jurusan. Di SMA, saya lebih memilih jurusan eksakta dibandingkan ilmu sosial. Ketika kuliah, saya malah ikut UMPTN lagi meski sudah diterima di Fikom Unpad yang salah satu jurusannya adalah ilmu jurnalistik.

“Toh, kuliah hanyalah untuk membentuk pola pikir. Bukan berarti saat kerja nanti akan sesuai bidang yang diambil,” ucap saya tanpa merujuk langsung pada impian sederhana masa kecil saya. Akhirnya, saya lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi.

Tuhan Mahamengetahui. Ketika saya gagal pada suatu tes kerja – yang mungkin membuat saya murung, ada jalan lain yang lebih dibuka. Jalan menuju mimpi masa kecil saya yang terbilang sederhana. Menjadi jurnalis sepak bola. Per 1 April 2004, saya resmi tercatat sebagai reporter Tabloid SOCCER.

Tak butuh waktu lama buat saya untuk menyempurnakan mimpi masa kecil. Dua tahun berselang, saya mendapatkan kabar gembira dari pimpinan redaksi. “Kamu berangkat ke Jerman untuk meliput Piala Dunia,” ungkapnya saat itu.

Saya seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin saya yang saat itu terbilang junior, bisa diberi kepercayaan yang demikian besar. Tuhan Mahamengetahui.

Kecintaan saya terhadap sepak bola di masa kecil telah membuat saya meniti jalan ini. Ketika ditanya oleh teman soal kemampuan saya menulis, saya pun tak bisa menjawab dengan detail. Saya cuma mengatakan kepadanya, “Kalau kamu mau bicara, kamu harus mendengar. Jika kamu mau bisa menulis, kamu harus mau membaca.”

Bekerja di bidang yang dicintai memang memberikan keuntungan. Kita akan punya energi lebih untuk mengerjakannya. Itulah yang saya lakukan. Alhamdulillah, perusahaan tempat saya bekerja bisa mengapresiasinya.

Kemampuan menyelesaikan tulisan dalam waktu cepat menjadi competitive advantage saya. Itu pun yang diakui para pimpinan saya. Karenanya, tak butuh waktu lama buat saya untuk meyakinkan mereka bahwa, “Saya pantas dan sangat ingin bekerja menjadi wartawan sepak bola.”

Setelah menjadi wartawan, memang ada pasang surut dalam motivasi bekerja. Kendati bekerja di bidang yang dicintai namun statusnya berubah menjadi kewajiban, tentu tidaklah terlalu menyenangkan. Demotivasi mungkin saja terjadi. Hal itu pun pernah saya alami.

Usai Piala Dunia 2006, saya sempat bertanya pada diri sendiri. “Kamu ‘kan sudah memenuhi impian masa kecil kamu. Lalu, apa lagi yang kamu mau?”

Lalu, bagaimana cara saya untuk mengembalikan motivasi bekerja? Bikinlah tantangan baru!

Pada 2007, saya menantang diri saya untuk bisa menjadi komentator sepak bola. Alhamdulillah, itu bisa terpenuhi.

Memasuki 2008, tantangan baru lain hadir di hadapan saya. Saya dipercaya menjadi Digital & Online Editor DuniaSoccer. Sebuah bidang baru dan saya sangat tertantang untuk membuat DuniaSoccer berkembang. Perlahan tapi pasti, performa DuniaSoccer terus berkembang. Pada 2011, kerja keras kru DuniaSoccer akhirnya terbayar. Traffic visitor mulai stabil dan memenuhi target. Saya pun mendapatkan apresiasi dari perusahaan.

Memasuki 2012, tentu ada tantangan baru lagi yang saya hadapi. Membuat tantangan-tantangan baru dalam pekerjaan sangatlah dibutuhkan. Selain untuk menjaga motivasi dalam bekerja, pun mencari dan menggapai mimpi yang baru.

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” (The Alchemist by Paulo Coelho)

Posted in harewos | 1 Comment

Villas-Boas, Korban Cinta Abramovich

Ce: Kamu di mana sih?
Co: Aku masih di jalan, Sayang
Ce: Bohong… Pasti ngelaba dulu deh…
Co: Enggak, Sayang… Ban motorku tadi kempes jadi harus ke tukang tambal ban dulu…
Ce: Udah ah, aku pulang naek angkot aja!!!
Co: Iih, kok gitu?!
Ce: Abis kelamaan…

Penggalan cerita di atas mungkin pernah dialami oleh salah satu di antara kita ketika zaman pacaran. Ada kalanya, pacar kita ngambek hanya karena kita telat ngejemput atau datang untuk apel ke rumahnya.

Perasaan ngambek itu tentu tidak serta-merta muncul. Rasa ngambek akibat ketidaksabaran itu pasti ada yang mendasarinya. Cinta!

Ya, perasaan cinta seolah menjadi causa prima dari perasaan ngambek yang terjadi. Saking cintanya kita sama seseorang, kita jadi selalu berharap orang yang dicintai itu bisa muncul dengan hanya mengucapkan “sim salabim”. Manusia cenderung menjadi tidak sabar karena cinta.

Ketidaksabaran itu tak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia. Perasaan cinta terhadap suatu benda pun bisa menimbulkan ketidaksabaran.

Hal itu setidaknya dialami Roman Abramovich. Taipan asal Rusia itu sangat cinta dengan Chelsea, klub sepak bola yang dimilikinya. Saking cintanya, Abramovich tak mempermasalahkan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membentuk The Blues menjadi tim juara seperti yang diinginkan.

Ambisi besar Abramovich itu pun sudah banyak memakan korban. Teranyar, Abramovich berani memecat Andre Villas-Boas, manajer yang saat didatangkannya saja harus dengan kompensasi sebesar 13,3 juta pounds kepada FC Porto. Uang kompensasinya pun tak kalah besar, 9 juta pounds!

Ditambah dengan biaya kompensasi Carlo Ancelotti – pelatih pendahulu Villas-Boas, Abramovich sudah mengeluarkan sekitar 32 juta pounds dalam 9 bulan terakhir hanya untuk posisi manajer Chelsea! Itu setara dengan Rp462 miliar!

Masa kerja Villas-Boas di Chelsea begitulah pendek. Hanya 256 hari dia memimpin Frank Lampard cs dalam 40 partai.

Ambisi dan cinta memang bisa membutakan. Itulah yang terjadi di Chelsea selama dipegang Abramovich. Saking berambisi dan cintanya, Abramovich tak mau melihat timnya sedikit menyimpang dari trek yang seharusnya. Posisi kelima atau berada di luar zona Liga Champions seperti saat Villas-Boas dipecat tentu dianggap Abramovich bukan habitat yang pantas untuk The Blues.

Jaminan tampil di Liga Champions menjadi syarat mutlak Abramovich. Dengan gelimangan uang yang ada di kompetisi tersebut, Abramovich tentu bisa sedikit bernapas. Bagaimanapun, uang dalam jumlah besar dibutuhkannya untuk membuat neraca timnya biru. Andai masih merah, alamat Chelsea terganjal aturan UEFA Financial Fair Play dan tak bisa berlaga di Liga Champions. Hal yang tentu punya efek domino negatif.

Di satu sisi, Abramovich – meski statusnya sebagai pemilik dan pemodal utama – bisa dikatakan salah lantaran mengharapkan sebuah prestasi instan dari seorang pelatih muda yang secara umur satu angkatan dengan pemain senior yang ada di Chelsea. Tapi di sisi lain, sifat keras kepala Villas-Boas jualah yang membuatnya tercelat dari kursi manajer.

Sudah sering didengar jika kondisi kamar ganti Chelsea tidak begitu kondusif. Pemain senior yang punya pengaruh besar merasa kecewa terpinggirkan. Sayangnya, Villas-Boas seolah menutup mata dengan kondisi yang terjadi di Chelsea. Laiknya anak muda yang selalu ngotot mempertahankan pendiriannya, begitu juga Villas-Boas. Mantan asisten Jose Mourinho itu tetap kukuh memakai pola 4-3-3 yang sukses di Porto, tapi tak berjalan baik di Chelsea karena karakter pemain yang ada berbeda.

Dia seolah tak belajar dari pengalaman Luiz Felipe Scolari yang dipecat setelah hanya 7 bulan melatih. Pelatih asal Brasil itu keukeuh mengubah permainan pragmatis Chelsea peninggalan Mourinho (dan Avram Grant) ketika ditunjuk sebagai manajer pada musim 2008-09. Dia juga sempat mengalami friksi dengan salah satu pemain senior, Lampard, akibat memboyong Deco yang secara posisi bisa bentrok.

Saat Scolari dilengserken, Guus Hiddink masuk dan sempat mempersembahkan trofi Piala FA. Kemudian hadirlah sosok Ancelotti. Berbekal pengalaman di Italia yang kental dengan sepak bola pragmatis dengan pertahanan kokoh, Ancelotti tak merusak peninggalan filosofi permainan Mourinho. Dia pun sukses mempersembahkan double winners pada musim pertamanya. Sayang, dia menyulut ketidaksabaran Abramovich sehingga harus lengser pada akhir musim kedua.

Berkaca dari Grant – yang meloloskan Chelsea ke final Liga Champions – dan Hiddink, Roberto Di Matteo patutlah optimistis menatap sisa kompetisi sebagai caretaker. Setidaknya, meski kurang populer dan kurang pengalaman melatih klub besar, harapan melihat Chelsea yang lebih baik tentu ada.

Andai Di Matteo sukses, Abramovich mungkin saja mau mempekerjakannya secara permanen sebagai manajer. Jikapun tidak, pembahasan calon manajer Chelsea musim depan, begitu seru untuk dilewatkan.

Josep Guardiola, Joachim Low, bahkan Mourinho masuk bursa. Yang menjadi pertanyaan, akankah Mourinho mau kembali ke Stamford Bridge setelah terlibat friksi dengan jajaran manajemen pada akhir masa pengabdiannya dulu? Hanya pelatih dengan mental baja dan sedikit ”gila” yang mau menerima tantangan ambisi Abramovich di Chelsea. Siapakah dia?

Sir John Denham, English Poet: Ambition is like love, impatient. Both of delays and rivals.

Posted in menbal | Leave a comment

Secuplik Cerita dari Mattoanging

Akhirnya saya bisa juga mengunjungi stadion bersejarah ini. Jika tak menyaksikan langsung, saya mungkin tidak akan tahu jika nama yang benar dari stadion ini adalah “Mattoanging” bukan “Mattoangin” seperti kebanyakan ditulis.

Tertulis Mattoanging Makassar di bagian depan Tribun VIP stadion.

Sejarah Mattoanging yang mempunyai nama lain Andi Mattalatta itu memang panjang. Sepanjang tradisi PSM Makassar yang memang menjadi klub pertama di Indonesia yang berdiri 1915. Karenanya, ada perasaan gembira bisa menyaksikan PSM bermain di stadion bersejarah ini, meski hanya pertandingan uji coba. Dan, berstatus sebagai penonton bukan di tepi lapangan, sehingga bisa merasakan atmosfer seperti dirasakan fans.

Pelangi menghiasi langit Makassar yang cerah pada Sabtu sore itu.

Publik Makassar tampaknya sudah begitu kangen dengan gelar juara. Sudah lebih dari satu dekade tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur itu memang tak merasakan meraih titel di kasta tertinggi Liga Indonesia. Karenanya, tak heran para pencinta PSM, mulai dari anak orang kaya hingga pedagang asongan begitu berharap melihat Juku Eja bertakhta. (Eh, saya baru tahu ternyata Gudang Garam Filter di Makassar disebutnya Gudang Garam mini :p)

Bahkan, sampai tukang rokok pun mempertanyakan kapan tim kesayangannya akan juara.

Sore itu, PSM melakukan uji coba menghadapi tim sepak bola Universitas Hasanuddin. Hasil akhir? Bisa ditebak, PSM menang telak dengan skor 9-0. Sebuah langkah awal yang bagus dari pelatih Petar Segrt.

Para pemain PSM yang mayoritas pemain muda menyapa publik Mattoanging.

Dari pembicaraan sehari sebelumnya dengan Petar Segrt, saya mengetahui pelatih berdarah Kroasia itu merupakan sosok yang disiplin. Tidak membedakan nama besar atau pemain muda. Ketika berbuat salah, pasti akan dihukum. Jadi mengingatkan saya dengan sosok Felix Magath. Pelatih VfL Wolfsburg itu suka memberikan hukuman kepada pemainnya, meski hanya melakukan kesalahan kecil seperti kesalahan mengumpan atau gagal menyelesaikan peluang.

Beberapa pemain yang melakukan kesalahan dihukum joging mengelilingi lapangan.

Pemain sepak bola itu sudah menjadi idola bagi para fansnya. Apalagi untuk tim tradisional dengan pendukung fanatik besar macam PSM Makassar. Antusiasme mereka begitu terlihat meski tim kesayangannya hanya memainkan laga uji coba.

Oops... Yang ini jangan ditiru... Menerobos tidak melalui jalan yang semestinya.

Para fans PSM sudah siap untuk memburu para pemain kesayangannya, meski laga masih menyisakan beberapa menit.

Posted in jepret | 1 Comment

The Maczman Hapus Stereotip Lama Orang Makassar

Medio Oktober lalu, untuk waktu yang cukup lama, saya bisa menjelajahi Kota Makassar. Kesempatan yang bisa saya manfaatkan untuk bisa mengetahui atau lebih tepatnya mencari kebenaran soal cerita orang tentang stereotip orang Makassar yang katanya garang atau kasar – sesuai dengan unsur yang terdapat di nama kota.

“Saya pernah ke Sumbaopu, terus nawar barang. Namun, batal beli. Eh… masa saya kemudian dikejar yang jual sambil bawa-bawa badik,” cerita Ario, teman saya semasa SMA.

Cerita sahabat saya itulah yang terekam kuat di benak saya. Apalagi, sepupu saya pernah punya karyawan yang asalnya dari Makassar – kemudian saya sadari ternyata berasal dari Toraja – yang sifatnya blak-blakan.

Pada awal saya menginjakkan kaki di Sultan Hasanuddin, stereotip tentang orang Makassar masih tertanam. Apalagi melihat supir taksi yang berada di lingkungan bandara yang cenderung berbicara lantang dan berwajah keras.

Namun, anggapan saya itu tidak bertahan lama. Ketika panitia lokal untuk acara kantor saya datang dan kemudian berbicara, kekhawatiran saya mulai terkikis. Benarlah ujar-ujar yang berbunyi, “Jangan langsung percaya jika tidak membuktikannya sendiri.”

Saya pun merasa anggapan yang sudah lama tertanam di kepala saya itu salah. Mungkin, mereka bicara lebih lantang dan dengan volume tinggi. Tapi, tetap dalam kaidah dan norma yang wajar. Mungkin, laiknya orang yang berasal dari wilayah Jawa, karena tidak biasa saja sehingga menganggap ucapan mereka itu kurang sopan.

Sebelum datang ke Makassar, saya lempar pertanyaan via Twitter untuk mengetahui siapa yang bisa membantu saya untuk berkeliling Makassar. Termasuk untuk meliput. Ternyata, reaksi dari beberapa teman begitu menyenangkan. Mereka begitu welcome dan menyarankan beberapa nama atau tempat untuk dikunjungi.

Sosok yang saya temui pertama adalah Indra, Ketua BigReds Makassar. Dia dengan baik hati mau mengantarkan saya mengunjungi mes PSM Makassar untuk melakukan wawancara dengan pelatih Petar Segrt. Baiknya, Indra yang sebenarnya tidak tahu di mana mes itu berada, mau berusaha untuk mencari tahu dengan menanyakan ke beberapa temannya, menemani, hingga mengantarkan saya balik. Thanks to him.

The Maczman Cafe and Merchandise. Pusat komunikasi dan kreativitas komunitas suporter PSM itu.

Pandangan saya terhadap orang Makassar semakin berubah drastis 180 derajat setelah bertemu anak-anak The Maczman. Tak ada kesan garang sama sekali. Komunitas suporter PSM Makassar itu malah begitu ramah menyambut saya. Atau lebih tepatnya mau direpotkan oleh saya.

Ketika saya mengunjungi Kafe The Maczman, pintunya masih tertutup. Saya hanya berkomunikasi melalui akun Twitter resmi The Maczman. Namun, respons dari mereka ternyata begitu luar biasa.

Beberapa anggota The Maczman rela membelah Makassar hanya untuk datang dari markas besar di Rappokaling menuju kafe yang berada di wilayah lain Makassar. Tidak hanya satu, melainkan beberapa orang sekaligus.

Obrolan kami pun mulai cair. Setelah dari kafe, saya lantas mengunjungi Stadion Mattoanging untuk menyaksikan PSM Makassar melakukan laga uji coba. Setelah itu, saya diajak mengunjungi mabes mereka.

Beberapa anggota The Maczman yang dijumpai di The Maczman Cafe and Merchandise.

Di mabes The Maczman, saya melihat suasanan berbeda dari beberapa tempat suporter kumpul yang pernah saya kunjungi. Mereka begitu religius. Kebetulan, usai pertandingan PSM, datang waktu shalat Maghrib. Bang Coklat yang menjadi jenderal lapangan The Maczman, mengajak anggotanya untuk segera menunaikan rukun Islam kedua itu.

“Tak salah apabila Kang Jalu punya pandangan seperti itu (kasar). Bisa dibilang, bukan disebut orang Makassar bila tidak pernah berantem,” kelakar Coklat.

“Kami memang tengah mencoba mengubah pandangan orang terhadap suporter PSM. Dari yang dianggap kasar atau arogan, menjadi ramah dan murah senyum,” bilang Coklat yang punya nama asli Andi Syam Paswah Alam.

Sebuah evolusi sikap memang telah coba dicanangkan The Maczman sejak pertama kali berdiri satu dekade lampau. Menurut Coklat, para pendiri The Maczman ingin melihat komunitasnya yang dibentuk menjadi suporter mandiri dan berdaya cipta tinggi. “Karenanya, kami mencoba menyebarkan virus kreativitas kepada para anggota,” tandas Coklat.

Evolusi sikap itu tak hanya dari segi kreativitas. Dari sikap moral pun demikian. Salah satunya dalam bersikap dan bertingkah. Coklat mengakui jika ada anggota The Maczman yang awalnya dekat dengan kehidupan hitam. Mabuk-mabukan misalnya.

“Untuk menguranginya, ada aturan tegas. Tidak boleh minum alkohol sebelum menonton PSM. Sebab, kejantanan dalam mendukung tidak diukur dari minum alkohol sebelum pertandingan,” tegas Coklat merujuk kebiasaan suporter di Inggris yang kadang ditiru suporter di Indonesia. “Saya berani bertaruh dengan Kang Jalu. Kalau ada anggota The Maczman yang seperti itu, saya beri dua juta rupiah!”

Perubahan sikap itu tak hanya terjadi saat di lapangan. Saat hendak menonton pun, para anggota The Maczman dituntut untuk tidak mengganggu ketertiban pemakai jalan lain. Misal, seperti diungkapkan Fandy, tak boleh ada knalpot racing yang bikin bising. “Kami pun harus mematuhi aturan lalu lintas, tidak menerobos lampu merah misalnya,” tambahnya.

Guna menghindari hal-hal negatif lain, ada beberapa jalan keluar yang coba dilakukan. Dari pengamatan saya saat ke mabes The Maczman, ada beberapa kegiatan yang tengah dilakukan. Ada yang sedang menyablon kaos, ngeprint gambar untuk pamflet, atau memainkan alat musik.

“Salah satu langkah kami untuk mandiri adalah dengan mempunyai pemasukan sendiri. Selain dari kafe, kami juga memproduksi merchandise. Kami pun punya event organizer untuk kegiatan amal,” bilang Coklat sambil menunjukkan sebuah leaflet bergambar Iwan Fals di sebuah kegiatan amal.

Laiknya sebuah komunitas dengan jumlah anggota puluhan ribu, The Maczman tentu menjadi gula yang begitu manis untuk diburu. Para parpol dan ormas diakui Coklat beberapa kali mencoba mendekati The Maczman. Apalagi, kafe yang menjadi tempat berkumpul dekat dengan beberapa markas parpol dan ormas.

“Kami sering tutup siang hari karena tak enak jika dilihat ada anggota ormas atau parpol yang ada datang ke sini. Kami ingin menjaga independensi,” tuturnya.

Mendengar penjelasan yang dibeberkan Coklat dan beberapa anggota The Maczman, stereotip saya soal orang Makassar yang kasar itu tidaklah benar. Tak benar jika Makassar dalam suku bangsa atau kota itu berarti bersikap kasar. Sebaliknya, mereka begitu ramah dalam menyambut pendatang. Hanya orang yang tidak tahu atau belum berkesempatan mengetahuinya saja, yang mungkin punya asumsi seperti itu.

Pandangan lama saya soal orang Makassar itu memang tidak benar. Tapi, bagi sebagian atau malah banyak orang, hal tersebut masih melekat. Tak heran, pemerintahan provinsi Sulawesi Selatan mencanangkan sebuah program yang menurut saya bagus, “Visit Sulawesi Selatan 2012”.

Sebuah usaha yang tak hanya akan meningkatkan pemasukan asli daerah dari sektor pariwisata. Pun membuang persepsi lama orang soal orang Makassar. Ewako!

Posted in menbal | Leave a comment

Mulai Berasa Tua, Butuh Reporter

Gak kerasa, kurang dua bulan lagi, usia saya udah 33 tahun. Buat sebagian orang, usia tersebut masih terbilang muda. Tapi, kadang pula saya sering disebut tua oleh beberapa golongan yang lain :p

Ngomong-ngomong soal tua, berasa badan dan jemari ini udah gak kuat nulis banyak-banyak. Maklum, asam urat… Jadi kadang kalo dibawa ngetik, gemeretak sendi jari selalu diiringi nyengir di mulut karena menahan nyeri… Akibat sering begadang, kadang punggung ini makin menipis akibat dikerok hehe

Karenanya, saya butuh tenaga tambahan nih… Buat jadi reporter online di DuniaSoccer dengan status freelance. Syaratnya? Cukup punya passion sepak bola, bisa menulis, dan mau tiap hari mengupdate berita untuk DuniaSoccer. Diutamakan sih, mahasiswa tingkat akhir yang udah gak ada kegiatan.

Gampang kan? Kalo tertarik, coba kirim contoh tulisan kalian tentang sepak bola. Kirim ke kangjalu@gmail.com. Oiya, jangan lupa, kesediaan dan kesanggupan waktu buat menulis artikel itu kapan aja. Eh, sekalian nomor contact juga yah… (Kan biar bisa dihubungin balik :p)

Selain freelance, saya juga butuh nih tambahan kontributor. Diutamakan sih mahasiswa jurnalistik. Saya butuh untuk kota-kota sebagai berikut: Yogya, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Palembang. Jakarta juga denk… Tugasnya sama, update artikel tiap hari dan liputan tentunya hehe

Saya tunggu ya…

Eh satu lagi… Freelance desainer juga… Ga perlu desainer web, cuma desainer yang paham dengan permainan sepak bola… Gak kerasa, kurang dua bulan lagi, usia saya udah 33 tahun. Buat sebagian orang, usia tersebut masih terbilang muda. Tapi, kadang pula saya sering disebut tua oleh beberapa golongan yang lain :p

Posted in harewos | 14 Comments

The Youngest Become The Eldest

Menyambung cerita di artikel sebelumnya…

Minggu, 31 Juli 2011, siang hari. Tepat dua tahun meninggalnya ayah saya. Saya yang memang tengah menginap di rumah orang tua, dipanggil ibu ke kamarnya.

Pada awalnya, tak ada pikiran apa-apa di benak saya soal pemanggilan ini. Ibu pun hanya bercerita dan bertanya soal kabar saya dan keluarga inti saya.

Selang beberapa lama, ibu saya mengucapkan sebuah kalimat yang langsung membuat saya bungkam. “Lu, kalau Mami sudah gak ada, Mami titip keluarga ini ke Alu ya…” pinta ibu saya.

“Khawatir umur Mami udah gak lama, Mami nitip ke Alu buat hak waris dari almarhum papa. Mami nitip ini, jangan sampai keluarga ini ribut hanya karena perebutan harta warisan,” sambungnya. Ibu saya pun membeberkan hak waris yang dibuat, termasuk hitung-hitungannya serta menegaskan dengan menyebutkan tanggal dibuatnya pernyataan itu.

Jujur, pernyataan kedua itu yang membuat saya tak bisa berkata apa-apa. Perasaan di hati saya campur aduk. Pertama, tentu saya terkenang dengan almarhum ayah saya.

Hal kedua, yang ternyata membuat saya tak kuasa menahan sedih, adalah kenyataan jika keluarga ini sudah berada di “ujung” jalan. Sebagai anak dari kedua orang tua, kini kami harus bisa benar-benar berjalan “sendiri” tanpa ada yang membimbing langsung, saat surat waris itu benar-benar dilaksanakan.

Poin ketiga yang membuat saya terhenyak adalah kepercayaan ibu saya yang demikian besar kepada saya. Sebuah amanat yang demikian berat. Bagaimanapun, saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Beda dengan kakak yang kembar adalah 8 tahun dan 9 tahun dengan kakak tertua.

The youngest become the eldest. Saya sebagai anak bungsu, diberi kepercayaan untuk menjaga keutuhan Keluarga Besar Herman Hidayat dan Tjum Suganda. “Meski kamu yang paling bungsu, Mami percaya Alu bisa menjalankan amanat ini. Tolong jaga ya…”

Dua kali ibu saya menegaskan hal itu, menjaga keutuhan keluarga. Memang, tidak sedikit keluarga yang terpecah hanya karena perebutan hak waris. Orang tua saya tentu tak mau keempat anaknya saling bermusuhan hanya karena hal itu terjadi.

Di sisi lain, amanat itu pun membuat saya malu. Bagaimana tidak, dibandingkan dengan ketiga kakak, sayalah yang paling sering membangkang kepada orang tua.

Ah… Saya jadi teringat kisah seorang raja yang punya empat orang anak dan bersiap mewariskan kerajaannya. Sang raja pun melakukan tes kepada empat anaknya. Dan akhirnya, si bungsulah yang menjadi pemenang lantaran dinilai jujur. Sementara saya sendiri merasa sayalah yang paling sering membuat kecewa kedua orang tua dibandingkan ketiga kakak saya.

Saya masih “men-Jalu” bukanlah Jalu yang seperti orang saya inginkan. Tapi, orang tua saya tampaknya punya pandangan lain. Karenanya, mereka memberikan amanat yang berat ini kepada saya.

Semoga saja saya bisa menjalankan amanat ini. Sehingga seperti cerita raja dan keempat anaknya, saya bisa menjaga “kerajaan” ini tetap utuh dan terjaga hingga anak cucu kami. Amin

Posted in harewos | Leave a comment

30 Tahun 7 Bulan 24 Hari

Hari ini, enam bulan tepat saya tidak melakukan posting ke blog ini. Ah, sungguh kangen rasanya menulis bebas untuk mencurahkan ekspresi ke dalam tulisan di blog ini. Maafkan saya blog… Kesibukan selama ini telah membuat saya menafikanmu…

Tapi, bukan karena jangka waktu 6 bulan tepat yang membuat saya ingin menulis lagi di blog. Bagaimanapun, 31 Juli menjadi salah satu tanggal dalam kalender masehi yang akan selalul saya ingat.

Hari ini, dua tahun yang lalu. Jumat, 31 Juli 2009. Sudah menjadi kebiasaan dalam 8 bulan terakhir, saya selalu tertidur di kantor. Begitupun malam Jumat itu.

Sekitar pukul setengah 7 pagi, ada SMS masuk ke BB saya. Dari sepupu yang juga sahabat saya, Ganjar Ergantara Suganda. Isinya singkat, “Lu, yang sabar ya…” (Sebenarnya dalam bahasa Sunda, tapi demi memudahkan pemahaman jadi diterjemahkan semua :p)

Sebuah pesan singkat yang benar-benar menimbulkan tanya. Saya pun meneleponnya. “Apa maksudnya SMS tadi?” tanya saya.

Ganjar pun keheranan. “Katanya Pakde Herman (ayah saya) meninggal?” balas dia. “Kata siapa?” ujar saya lagi dengan nada meninggi. “Ibu saya,” tegas dia.

Saya coba menelepon Bi Nena, ibu dari Ganjar. Saya menanyakan kebenaran berita tersebut. Lantaran saya balik bertanya, beliau pun bingung dan mengatakan kabar tersebut datang dari Bi Erna, adik ipar bungsu dari ibu saya yang juga tetangga di Bandung.

Saya pun penasaran dan menelepon ke rumah Bi Erna. Saat tahu saya yang menelepon, dia langsung mencecar, “Lu, yang sabar ya,” kata dia. “Kenapa, Bi?” selidik saya. “Papa meninggal,” jawab dia.

Tak percaya dengan kabar itu, saya menelepon ke rumah di Bandung. Tak ada yang mengangkat. Saya telepon si Teteh, juga tak diangkat. Akhirnya bisa nyambung kala nelpon si Adhe, kakak ketiga saya. Dia hanya menjawab, “Ini lagi ke rumah sakit,” tanpa menjelaskan apa tujuan datang ke rumah sakit dan saya berasumsi dia pun tidak tahu.

Meski tahu kebenaran kabar itu bisa dipercaya, saya belum bisa menentukan perasaan yang terjadi. Saya coba menelepon istri, tapi tak diangkat. Saya pun menelepon ke rumah mertua hendak berbicara dengan istri saya.

Telepon pun diangkat oleh mertua. Baru keluar kata “Bu”, mendadak kerongkongan saya kering. Tak ada kata yang bisa keluar, hanya air mata yang berurai deras dan kaki yang mendadak lunglai dan saya menjadi terduduk. Mertua pun segera membangunkan istri saya. Baru saat mendengar suara istri, lidah tak lagi kaku untuk berbicara. “Bunda, papa meninggal. Segera pergi ke Sutami (rumah orang tua), ini ayah langsung berangkat ke Bandung,” perintah saya pendek. “Ayah sabar, jangan panik ya…” pesan istri saya.

Minggu, 31 Juli 2011, dua tahun sudah ayah saya meninggalkan saya. Tapi, entah kenapa, saya seperti masih merasakan kehilangan yang amat sangat. Setiap memori yang pernah terbentuk selama 30 tahun 7 bulan 24 hari saya hidup bersamanya, terus melintas di benak saya.

Minggu, 26 Juli 2009. Saya membuat sebuah putusan yang saya anggap terbaik tahun tersebut. Saya membatalkan rencana datang ke pernikahan sahabat saya di Jakarta dan memilih tinggal di Bandung. Alasan dasar sih sebenarnya hanya ingin berlama-lama dengan anak saya yang belum genap berumur dua tahun dan tengah lucu-lucunya. Tapi, siapa sangka, ada alasa lain Tuhan menahan saya untuk pergi.

Ya, hari itu, menjadi hari terakhir saya melihat ayah saya dalam keadaan bernyawa. Sekitar pukul 8 malam, setelah bercengkerama selama dua jam, saya pamit untuk pulang dari rumah sakit, tempat ayah saya dirawat. Saat pulang, saya coba membesarkan hatinya, “Pa, pas Alu ke Bandung Jumat besok, papa udah pulang kok,” kata saya sambil mencium tangan dan pipi ayah. Meski tak terlihat jelas karena terhalang selang oksigen, saya tahu ayah saya membalas dengan senyuman.

Tak ada yang tahu jika itu adalah senyuman terakhirnya untuk saya. Tak ada yang tahu juga, jika ayah saya benar-benar “pulang” pada Jumat, sesuai “janjinya” kepada saya. Pulang untuk selama-lamanya. (Ah… bahkan dalam meninggal pun, papa selalu menepati janji…)

Opa dan Cucu Kelima

Foto ini akan menjadi kenangan buatmu, Gentza... Bahwa, opamu seorang sosok yang "besar".

Selasa, 26 Juli 2011. Tepat sekitar pukul 8 malam, saya kembali teringat memori kali terakhir melihat ayah bernapas. Saya pun tak kuasa menahan air mata usai menulis, “Tanggal ini, jam segini, dua tahun yg lalu, kali terakhir saya melihat ayah saya… :'( Allahumaghfirlahu…” pada akun Twitter saya. Aliran air mata itu baru mulai bisa terhenti ketika ada sebuah tangan menjulur seraya memberikan secarik tisu. (Thanks for your present… It means a lot for me)

Kamis, 28 Juli 2011, lewat tengah malam. Saya mencoba kembali merangkai memori dan pelajaran apa saja yang saya dapatkan selama 30 tahun 7 bulan 24 hari hidup bersama ayah saya.

Selain selalu berusaha menepati janji, laiknya seorang militer, ayah saya selalu tegas dan tepat waktu. Tapi, bukan itu faktor utama yang membuat saya kagum pada ayah saya. Ketaatannya pada tugaslah yang membuat saya kagum.

Kejadian bermula pada akhir masa SMA saya. Ketika itu, saya menuntut ingin mobil sendiri. Bukan tanpa dasar, menurut saya saat itu. Saya melihat, banyak anak dari temen ayah sayang dengan pangkat lebih rendah sudah bermobil. Sedangkan saya, masih harus berbagi dan rebutan dengan ketiga kakak saya.

Mendengar rajukan saya, ayah saya cuma terdiam. Hal yang sebenarnya membuat saya agak kesal saat itu.

Allah Mahatahu. Selang dua tahun, saya lulus UMPTN dan diterima kuliah di Jakarta. Saya pun memilih tinggal di mess tempat ayah saya tinggal.

Hal itu langsung membuka mata saya. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, ada banyak tentara dengan pangkat di bawah ayah saya yang setiap anaknya diberi mobil satu-satu. Tapi, ada pemandangan berbeda. Ada saja hal “aneh” yang dialami keluarga tersebut. Hal yang tidak ditemui di keluarga saya yang sempurna secara fisik dan mental.

Satu hal yang sampai saat ini saya tak bisa lupakan adalah ketika saya belum sarapan, padahal hendak berangkat kuliah. Tak dinyana, ayah saya pergi keluar rumah dan pulang dengan roti yang dibeli di warung rokok dari depan komplek.

Kesahajaan. Pelajaran itulah yang saya petik dari ayah saya. Meski punya banyak pangkat dan jabatan, ayah tak serta-merta memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi. Meski punya banyak kenalan di beberapa pos penting di pemerintahan dan perusahaan nasional, dia tak memberikan katebelece bagi anak-anaknya agar dimudahkan kerja.

Hal yang juga sempat saya rasakan ketika hendak memasuki SMA Taruna Nusantara. Kepala sekolah Tarnus merupakan sahabat ayah saya. Tapi, dia sama sekali tak mau meluluskan keinginan saya agar dimudahkan seleksinya. Saya pun gagal. Guna menghibur saya, dia hanya berkata singkat, “Cukup satu di keluarga ini yang merasakan beratnya menjadi tentara.”

Ah… masih banyak lagi kenangan dan pelajaran yang saya petik selama lebih dari 30 tahun hidup bersama ayah saya. Meski tahu tak ada sosok yang sempurna di dunia ini, saya tak peduli. Ayah saya yang membentuk saya menjadi seperti sekarang. Jikapun ada yang masih mengganjal, hanyalah karena saya hingga saat ini masih banyak meninggalkan nilai-nilai yang dia ajarkan.

“Mulailah untuk bisa berkompromi dengan diri sendiri,” nasihat seseorang yang menyayangi saya. Setelah dua tahun, saya merasa lega saat ini. Maaf telah membebani Papa di alam barzah selama dua tahun ini. Insya Allah, saya akan berusaha untuk terus menjadi Jalu seperti yang papa inginkan…

Terima kasih, Pa… Untuk 30 tahun 7 bulan dan 24 hari yang begitu berharga bagi saya.

Putra bungsumu,
Jalu Wisnu Wirajati (yang sejatinya ingin menggunakan kata Hidayat pada akhir nama sebagai simbol bahwa saya adalah anak dari sosok hebat, Herman Hidayat!)

Posted in harewos | Leave a comment

“Ketidakadilan” untuk Tim Ibu Kota (Sebuah Otokritik)

Senin siang, 24 Januari 2010. Dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, saya membaca timeline di Twitter. Kemudian ada sebuah tweet yang menarik pandangan saya.

“Kalau ada berita “miring” tentang Persija kenapa cepet banget menyebar? Tadi malem stadion Siliwangi “hancur” boro2 diangkat Media!!” tulis Tika Harahap.

Saya pun membalas tweet dia dan mengatakan jika salah satu nilai lebih dari tim asal pusat pemerintahan adalah pemberitaan media. Segala hal yang terjadi pasti akan selalu menjadi sorotan. Terutama hal-hal negatif. Sudah menjadi rahasia umum, jika berita yang kontroversial atau negatif selalu menjadi daya tarik orang.

Saya pun teringat dengan tulisan Bambang Pamungkas pada blog pribadinya. Pada artikel berjudul “Please dong ah…” Bepe menulis, “Seperti tim-tim ibukota di belahan dunia lain Persija selalu menjadi bahan yang menarik untuk dibahas, sesuatu hal yang mungkin kecil jika terjadi di tim lain bisa menjadi hal yang sangat besar jika hal itu terjadi di Persija.”

Mengapa demikian? Lantaran berada di pusat pemerintahan, otomatis hampir seluruh kantor media nasional berpusat di kota tempat Persija berdiri, Jakarta! Nah, sudah bisa dipastikan juga, seluruh wartawan terbaik akan berada di lokasi yang sama. Dengan demikian, usaha memberitakan mereka akan lebih mudah lantaran secara peliputan lebih dekat dan bisa lebih banyak waktu yang digarap.

Ini tentu saja dengan situasi di daerah. Sebut saja saat terjadi kericuhan penonton di Stadion Siliwangi. Jumlah media peliput tidaklah sama dengan yang ada di Jakarta.

Ambil contoh stasiun televisi. Di Jakarta, seorang reporter akan dengan mudahnya mengambil gambar karena ditemani kamerawan dan pengemudi yang selalu siap untuk mengejar berita.

Lain halnya dengan di daerah. Seorang kontributor, biasanya merangkap kamerawan, reporter, dan juga “pengemudi” bagi dirinya sendiri. Mereka pun tak hanya fokus untuk membuat satu berita dari satu bidang. Seringkali pagi hari mereka membuat berita politik atau ekonomi, malam harinya baru olahraga.

Melihat perbedaan SDM dalam melakukan peliputan, wajar kiranya apabila berita dari pusat pemerintahan akan lebih banyak, beragam, bahkan punya durasi yang lebih lama dalam penayangannya di televisi. Karenanya, Persija (dan juga Jakmania sebagai komunitas suporternya) akan selalu mendapatkan sorotan dari media-media. Dan kadang, prinsip “Bad news is a good news” pun dikedepankan.

Pendapat Bepe selanjutnya, masih di artikel yang sama, pun bisa dipahami. Bepe menulis, “Saya melihat media selalu mencoba untuk menggerogoti kekuatan Persija dengan membentuk opini publik yang negatif tentang Persija. Mereka melakukan itu karena memang sebenarnya mereka bukan pendukung Persija, mungkin memang betul mereka mencari nafkah di Jakarta akan tetapi sejatinya mereka adalah pendukung tim-tim daerah asal mereka, sehingga dengan memecah belah Persija kekuatan Persija menjadi berkurang, mereka selalu menonjolkan sisi negatif Persija daripada hal-hal yang positif.”

Situasi yang dialami Bepe dan Persija tentu berbeda dengan yang dialami, taruhlah Persipura Jayapura atau Persisam Samarinda. Dengan status sebagai putra daerah, para awak media di Jayapura atau Samarinda tentu akan melakukan “pemujaan” kepada tim yang berasal dari daerahnya.

Seorang rekan media dari Bandung lantas menceritakan kejadian tak mengenakkan yang dialaminya saat di Samarinda. Ketika mencoba meliput partai antara tuan rumah melawan Persib.

“Bayangkan saja, kami tak diizinkan masuk. Padahal pada saat technical meeting sehari sebelumnya, sudah disepakati ada 10 wartawan Bandung yang diizinkan meliput. Nyatanya, pas pertandingan, kami dilarang masuk,” jelas salah seorang wartawan senior itu.

“Kami akhirnya bisa masuk setelah Manajer Persib meminta kepada panitia pelaksana. Setelah masuk stadion, kami tak mendapatkan kursi. Semua kursi di tribun sudah ada namanya untuk media A atau media B yang semuanya adalah media lokal,” rutuknya lagi.

Kendati sudah menggunakan azas praduga tak bersalah, sulit rasanya jika tak melihat kejadian yang dialami wartawan tersebut dari sisi teori konspirasi. Apakah perbuatan itu disengaja sehingga “orang luar” tidak tahu kejadian yang terjadi di Stadion Palaran?

Untuk tim-tim di luar Jawa, hal tersebut bisa dilakukan. Pasalnya, sorotan media tentu akan kurang. Lain itu, pertandingan kandang tim-tim (yang mencoba curang) itu pun tak disiarkan secara langsung. Akan mudah bagi mereka melakukan segala hal untuk memenangkan timnya.

Pernah dengar juga dari cerita seorang rekan. Ketika wasit yang seharusnya tak tinggal di hotel yang sama dengan pemain, justru diinapkan di rumah manajer tim tuan rumah.

Tindakan-tindakan itu tentunya tak mungkin tim-tim yang berdomisili di kota besar di Pulau Jawa. Terutama Persija yang berada di pusat pemerintahan sekaligus pusat media. Jangankan untuk berbuat curang, melakukan sedikit kesalahan saja pasti akan menjadi berita besar. Seperti yang ditulis Bepe pada blognya, “…menginap di hotel bagus saja tetap mendatangkan protes.”

Maaf, tulisan ini bukanlah untuk memojokkan siapa pun. Murni sebagai self-criticism atau otokritik kepada saya sendiri sebagai pekerja media. Bagaimanapun, sebuah media memang dituntut untuk bersikap netral dan mewartakan apa adanya, tak menonjolkan sentimen pribadi atau kedaerahan.

Tabik.

Posted in menbal | Leave a comment