Aku ke Barat, Dia ke Timur

Entah apa yang membuatku begitu bersemangat untuk menyegerakan mandi sebelum pukul 07.00. Padahal, jangankan untuk mengguyurkan ke seluruh tubuh, berwudhu saja jelang shalat shubuh sudah membuatku malas lantaran bersentuhan dengan air di udara sedingin pagi di musim penghujan seperti ini.

“Uhhh… Andaikan setiap pagi kran air di kamar mandi berhenti mengalir, tentu aku bisa bersorak lantaran terbebas dari berwudhu. Andaikan aku hidup di Gurun Sahara, tentu aku bisa memulai kewajiban pagi hanya dengan bertayamum terlebih dulu.” Seperti itulah harapan semu yang selalu aku impikan setiap pagi.

Arloji yang telah kupakai menunjukkan pukul 07.23. Masih ada waktu 7 menit sebelum aku bisa segera mengetahui hal yang sangat kuharapkan sejak akhir pekan kemarin. Setelah mengoles rambutku dengan gel agar terlihat bak anak punk yang sedikit shaleh, aku pun segera bersepatu.

Pukul 07.28 aku telah berdiri di depan pintu kamar kostku. Mengunci pintu, kemudian melangkah ke barat menuju gang sempit yang menghubungiku dengan dunia luar. Tepat pada ujung lorong, aku berdiri sebentar. Jantungku pun berdegup kencang. Dia melangkah di hadapanku.

Dia akan berjalan melangkah di depanku. Dia berjalan santai menuju timur. Setelah dia melangkah kian jauh ke arah utara dan hampir tak tampak bayangan punggunya, aku pun melanjutkan perjalananku menuju kantor yang berada di barat. Dia tampaknya memang digariskan untuk menggoda jiwaku. Hal itu baru kusadari pada Kamis pekan lalu.
Pagi itu adalah matahari Kamis terakhir yang terbit di timur menjelang pergantian tahun. Aku tak bisa tidur lagi usai shalat shubuh lantaran sudah cukup kenyang mengabiskan malam di peraduan sejak pukul 21.00. Daripada bengong dan merasa kegerahan lantaran kipas angin di kamar mati, aku memutuskan mandi dan segera berangkat menuju kantor yang hanya berjarak sepelemparan batu.

Sedikit tergopoh-gopoh karena di mulutku masih tergigit sehelai roti tawar tanpa beroleskan apa pun, aku berjalan keluar dari kamar kost. Sesampainya di ujung lorong gang, tiba-tiba aku melihat sesosok makhluk cantik berjalan tak jauh di depan mataku. Dia berjalan dari arah selatan menuju utara. Sebuah keberuntungan aku bisa melihat makhluk indah ciptaan Sang Pencipta pada pagi hari sebelum melalui rutinitas kerja yang dipastikan bakal menimbulkan kekesalan di antara para karyawan. Saat itu, aku melirik arloji. Pukul 07.31.

Pada saat pertama melihatnya, aku hanya merasa tengah dinaungi keberuntungan. Dia sangatlah berbeda. Padanan warna yang membalut tubuhnya sangatlah indah dan padu padan. Alangkah beruntungnya aku jika bisa melihatnya lagi di lain waktu. Tapi, Pikiran itu kubuang jauh-jauh.

Sosok cantik seperti dia tentu tak bisa dikira. Bisa saja, dia punya janji makan yang berbeda. Bisa saja siang hari dia mampir makan di rumah Tuan A dan sorenya minum-minum di kafe dengan Mas B. Lagipula, lightning never striker twice in the same place, isn’t it?

Namun, pada hari itu, petir tampaknya menyambar tempat yang sama. Tempat yang menjadi penghubung dunia luar dengan kostku.

Sore hari, usai pulang kerja, dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri trotoar yang jika diukur memakai busur derajat manapun, akan berjumlah 180 derajat dengan tempatku bekerja. Kepalaku tak kuangkat. Hanya menatap trotoar yang bentuknya sudah tak keruan lantaran tergerus upaya modernisasi ibu kota negara yang mengklaim sebagai metropolitan ini. ”Pembangunan kabel internet, Mas,” jawab tukang gali ketika aku menanyakan untuk apa pipa dan lubang sebesar itu di depan gang menuju kostku.

Sore hari, aku pulang kantor lebih cepat. Sebab, hari itu aku merasa kesal sekali. Ingin rasanya mengeluarkan umpatan makian lantaran hari itu begitu buruk menurutku. Daripada aku bertahan dan gampang mengeluarkan kata makian, lebih baik aku ambil tasku dan segera beranjak pulang.

Aku kemudian memencet tanda panah ke bawah di depan pintu lift. Untuk kali pertama selama bekerja di salah satu media nasional ini, aku pulang sebelum jam besar di lobi kantor berdentang lima kali, tanda waktu normal karyawan pulang kerja.

Tak ada yang berani menyapaku saat keluar dari kantor. Di lift. Bahkan satpam di lobi depan yang biasa bercanda, tampaknya memahami dengan apa yang aku alami. Mereka bergeming.

Perjalanan dari kantor ke kost tak membutuhkan waktu lama. Tak sampai 10 menit aku sudah berada di gang yang kadang membuat dadaku terasa sempit karena setelah melangkah melalui jalan kompleks yang dihotmix, beralih ke jalan setapak yang tak disemen sama sekali. Andai awan yang menggelayut di atas kota sudah memuntahkan isi perutnya, alamat bagian bawah sepatuku akan berhiaskan tanah abang yang pekat. Itu berarti, menambah pekerjaan kasar sebelum masuk ke kamar kost.

Tepat pada pukul 05.00, saat aku tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dia. Ya, dia yang juga melintas di hadapanku jelang berangkat ke kantor, kini muncul saat aku pulang kerja. Dia berjalan pelan menuju selatan. Arah mata angin yang berlawanan dibandingkan saat dia pergi di pagi hari.

Jiwa investigatif layaknya seorang kuli tinta ini kemudian tergerak untuk mencari tahu. ”Apakah dia selalu pergi dan pulang sesuai jadwal reguler?” Begitu pikirku.

Keesokan harinya, aku mencoba mencari tahu. Tepat pada pukul 07.30 aku sudah berada di ujung gang. Dan, benar saja, hanya butuh waktu semenit, dia kembali muncul. Juga dengan gerak anggun yang sama. Melangkah dari barat ke timur.

Sore harinya, aku kembali pulang lebih cepat. Sebelum pukul 17.00 aku sudah berada di depan gang kostu. Lagi-lagi, keinginan saya terkabul. Dia kembali muncul di hadapanku. Sama seperti di pagi hari, tak sekali pun dia menolehkan pandangannya kepadaku. Toh, hal itu justru membuat darahku tergelak dan denyut nadi ini semakin kencang laksana genderang mau perang….
Secara tanpa sengaja, aku merasa, kami terikat oleh lingkaran waktu. Setiap pukul 07.30 tiap harinya, dia akan melakukan repetisi yang sama. Berjalan dari arah barat menuju timur. Dan, hingga tiga bulan telah berlalu, musim hujan mulai beralih ke musim kemarau, belum sekali pun dia memalingkan wajah kepadaku. Padahal, nyaris setiap hari dia melintas di hadapanku.

April tampaknya menjadi bulan keberuntungangku. Sejak masih bayi, banyak hal yang membahagiakan terjadi pada bulan keempat menurut tarikh masehi ini. Ibuku pernah berkata, saat berumur tujuh bulan, dia sempat lupa menutup ranjang bayi saat berangkat tidur. Akibatnya, aku nyaris terjatuh dari ranjang berwarna hijau itu. Beruntung, saat nyaris terjatuh, ayahku yang lembur membuka pintu kamar dan langsung melompat untuk menahan aku terjatuh dari ketinggian 50 centimeter.

Saat aku beranjak dewasa, makin banyak anugerah yang dilimpahkan Allah kepadaku di bulan April. Mulai dari cinta monyet pertama, kartu kredit pertama, hingga merasakan lulus dari salah satu universitas negeri beken di tanah air. Meski indeks prestasi pas-pasan, aku merasa bangga lantaran menyelesaikan ujian komprehensif dengan waktu tercepat, hanya 25 menit! Tercepat untuk seluruh jurusan yang ada di fakultasku.

Dua kejadian membahagiakan terakhir yang kuingat pada April ini terkait dengan tempat kerjaku sekarang juga pasangan resmiku. Pada 1 April, tiga tahun lalu, aku diangkat menjadi karyawan di salah satu anak perusahaan media terbesar di tanah air. Tahun lalu, pada 23 April, aku menembak perempuan yang kini telah menganugerahiku seorang putra berumur satu bulan.

Kini, keberuntungan lain tampaknya terhampar di depanku. Pada 26 April, empat bulan setelah pertemuan pertamaku dengan dia, aku berkesempatan melihat detail wajahnya. Saat itu, aku menjatuhkan handphone yang asalnya ingin dimasukkan ke dalam saku celana usai menelepon. Aku pun membungkuk mengambilnya. Tepat pada saat itulah aku melihat matanya. Sorot mata nan indah pun tajam. Pandangan yang bisa menggetarkan para pecinta dia.
Tatapan mata pada pagi itu memang telah membuat rasa penasaranku akan sorot matanya sedikt terobati. Namun, rasa penasaran lain muncul. Sejak aku melihat mata indah itu, tak sekali pun aku melihatnya lagi. Sudah beberapa hari aku tak melihat dia melintas di hadapanku padahal telah berulang kali aku menyengajakan untuk pergi lebih pagi dan pulang lebih cepat.

Bulan pun berganti. Angin musim kemarau kian kencang meniup dedaunan kering di depan kamar kostku. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil menyelinap melalui sela-sela pintu dan masuk sehingga mengotori kamar kostku.

Meski begitu, aku tak ambil pusing. Bagiku, kehilangan dia selama 7 hari terakhir lebih menimbulkan pertanyaan. Hal itu juga sempat membuat khawatir istriku yang tinggal di kota kelahirannya. Tanpa rasa cemburu, melalui telepon, dia mengatakan, ”Sudah, tanyakan saja kepada tetanggamu. Pasti ada yang mengenalnya.”

Atas saran istri jualah, aku memberanikan diri untuk mencari tahu tentang dia. Enam orang pertama yang kukenal hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Orang ketujuh hingga keenam belas ditanya, ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. ”Saya pun kangen. Padahal, belum sekali pun saya mengajaknya untuk makan di rumahku,” bilang orang keempat belas. Dengan redaksional berbeda, 9 orang lainnya menjawab senada.

Baru pada sosok ketujuh belas aku menemukan jawaban. Orang itu seorang pria berumur 56 tahun dengan rambut hitam kemerahan akibat memakai semir murahan. Dia adalah seorang penjaja buah-buahan di pinggir jalan raya, dekat kantor dan kostku. Namun, bukan jawaban yang membuat hati ini cerah. Justru penjelasan memilukan yang membuat hati ini merasa bergetar hebat menahan rasa iba.

”Seminggu yang lalu, ketika coba melintasi jalan ini, dia tertabrak motor. Tubuhnya terpelanting hebat hingga terperosok ke dalam selokan sebelah sana,” jelas si penjual buah seraya mengacungkan pisau sebagai alat bantu menunjukkan arah. Ujung mata pisau itu mengarah ke ruas selokan di depan kantor yang menerbitkan petunjuk buku telepon.

Aku pun beringsut bergerak menuju arah yang dimaksud. Begitu aku melongokkan kepala, tak kuasa kornea ini menahan ait mata. Aku melihat sosok indah yang selama empat bulan ini melangkah ke utara saat aku pergi bekerja dan melintas ke selatan saat aku pulang, hidupnya berakhir dengan tragis. Kucing berbulu laksana tembaga itu kini tinggal tersisa tulang dan kulitnya yang telah mengering. Tak ada lagi keindahan yang tersisa.

This entry was posted in carita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply