Belajar dari National Geographic

National Geographic Channel merupakan salah satu saluran favorit saya di stasiun televisi berbayar. Hampir setiap hari, pasti saya menyaksikan salah satu program dari NGC.

Salah satu program yang selalu saya ikuti adalah “Air Crash Investigation”. Sebuah program yang menyelidiki kecelakaan-kecelakaan pesawat yang terjadi di dunia. Termasuk kecelakaan Adam Air di Teluk Majene.

Setiap kejadian, mempunyai penyebab yang berbeda. Menarik untuk disimak memang. Tapi, bukan itu yang menjadi alasan utama saya menulis artikel ini.

Meski mungkin tidak detail dan sedikit dibumbui aroma Hollywood, saya rasa ACI cukup membuat penontonnya tersadar. Ada banyak sebab dalam satu kecelakaan pesawat.

Ambil contoh salah satu episode berjudul “Cleared for Disaster”. Episode ini menceritakan kecelakaan US Air Flight 1493 yang saat mendarat menabrak Skywest Airlines Flight 5569 pada 1 Februari 1991 di Los Angeles Airport. Sebanyak 34 penumpang tewas.

Kesalahan pertama divonis kepada pengatur lalu lintas udara di menara yang salah mengizinkan US Air Boeing 737 mendarat kala di jalur penerbangan masih ada Sky West Airlines.

Kendati demikian, National Transportation Safety Board (NTSB) tak lantas menimpakan kesalahan kepada si pengawas lalu lintas udara. Beragam aspek pun diselidiki.

Ternyata, penyebabnya tak hanya kesalahan dari pengawas yang memang kelelahan dengan begitu banyaknya pesawat yang akan mendarat dan lepas landas dengan terus terhubung di headphone di telinganya.

Secara struktur penempatan menara pun tak memungkinkan bagi pengawas untuk memerhatikan lalu lintas dengan mata kepala sendiri secara manual. Pantulan lampu di lintasan membuat pengawas tak melihat ada pesawat kecil yang bersiap untuk lepas landas, ketika mengizinkan Boeing 737 mendarat.

Penyebab lainnya terkait dengan lampu pada ekor pesawat Sky West. Lantaran berwarna sama dengan lampu penanda lintasan ditambah posisinya sejajar, pilot Boeing 737 melihat lampu di ekor Sky West adalah lampu penanda lintasan.

Solusinya, NTSB meminta menara pengawas LA Airport dipindah. Lampu pada ekor pesawat pun dibuat standardisasi. Bagaimana dengan pengawas yang dianggap lalai? Dia tidak dipecat. Atas dasar pertanggungjawaban, dia memilih mundur dari dunia “penerbangan”.

Dari pemaparan soal kecelakaan di LA Airport itu, saya melihat ada perbedaan yang cukup mencolok dengan berbagai kecelakaan yang terjadi di tanah air. Di sini, saya sering mendengar frasa “human error” sebagai akar permasalahan sebuah kejadian. Sebuah analisis yang gampang mengucapkannya, tapi berat bagi tertuduh.

Sering saya mendengar berita mengenai sebuah kecelakaan di jalan raya lantaran supir truk pengangkut mengantuk. Dengan mengatakan “human error” dan menimpakan kesalahan kepada supir, penyelidikan kecelakaan akan terhenti sampai di situ.

Tapi, belajar dari metode analisis NTSB, bisa jadi “human error” pada kecelakaan supir truk pengangkut itu hanyalah hilir dari sebuah aliran sungai permasalahan. Bisa saja, supir mengantuk lantaran dikejar target untuk sampai ke kota tujuan pada Hari H Jam J. Sementara, kondisi fisik pengemudi dan jalan diabaikan oleh yang memberikan tugas demi alasan bisnis semata.

Supir tentu saja tak mau itu terjadi. Jika si boss yang memintanya mengatarkan barang marah, alamat uang upah dia berkurang atau bahkan lenyap sama sekali. Padahal, siapa tahu, dari uang itulah dia membiayai anak dan istrinya yang tengah kelaparan di kampungnya lantaran harga-harga bahan pokok melambung tinggi. Dengan begini, kecelakaan itu terjadi karena “human error” yang terakumulasi, bukan dari si supir saja.

Tentunya, cara bersikap NTSB dalam penyelidikan kasus tertentu harus dijadikan pelajaran. Janganlah kita mudah marah dan kemudian menimpakan kesalahan kepada orang lain. Siapa tahu, kesalahan utamanya bukan terletak pada orang yang kita tuduh bersalah. Bisa jadi malah sikap ceroboh dan lalai kita yang menjadi causa prima. Sangat mudah memang menemukan kesalahan orang lain.

Well, Ramadhan telah datang. Ada baiknya kita di bulan yang penuh berkah ini menjadi mawas diri dan melakukan introspeksi. Semoga, Ramadhan ini memberikan pencerahan bagi kita untuk tak mudah menyalahkan orang lain tanpa mau disalahkan atas kesalahan yang kita perbuat sendiri.

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan buat yang merayakan…

About Kang Jalu

Just call me Kang Jalu... Follow me on Twitter @kangjalu
This entry was posted in harewos. Bookmark the permalink.

Leave a Reply