Jangan Mau Dijadikan Centeng, TNI!

Hari ini, 5 Oktober 2010, Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan ulang tahun ke-65. Tingkatan usia yang seharusnya menunjukkan kearifan.

Indonesian military chief General Agus Suhartono (front, standing in car) inspects army personnel during a rehearsal of the 65th anniversary ceremony in Jakarta on October 3, 2010. Indonesian military forces will celebrate their 65th anniversary on October 5.

Namun, tak semua personil TNI menunjukkan kearifan itu. Banyak dari mereka yang seolah lupa akan fungsi dan tugasnya masing-masing.

Sebagai seorang “anak kolong”, saya tentu tahu sepak terjang TNI. Banyak anggapan minor melekat. Salah satunya adalah anggapan yang menilai personil TNI memanfaatkan status “lorengnya” untuk mendapatkan keuntungan.

Bukan sebuah anggapan yang keliru. Di lapangan, saya memang banyak menemui hal seperti itu. Mulai dari tentara yang naik angkutan umum dengan “bayar di atas”, menjadi “beking” di beberapa tempat, mencari obyekan di luar, bahkan mau dijadikan “centeng”! Tentu dengan memanfaatkan status “lorengnya” itu.

Melihat kenyataan itu, saya jelas miris. Bagaimanapun, TNI adalah alat negara yang seharusnya menjadi kebanggaan negara.

Salah satu landasan kuat yang membuat sebagian dari mereka (bukan TNI secara keseluruhan) melakukan hal itu tentulah faktor ekonomi.

Jika melihat data Kompas (23/10/09), untuk tingkatan terendah, Tamtama dengan masa kerja 15 tahun, akan mendapatkan take home pay sekitar Rp2,3 juta. Sedangkan perwira mencapai RP4 juta.

Dilihat dari nominal, jumlah itu tentu terbilang besar. Berdasarkan estimasi untuk 2010, Gross Domestic Income per kapita di Indonesia mencapai 2.858 dollar AS atau 238,17 dollar AS per bulannya. Sekitar Rp2,2 juta.

Tapi, tetap perlu dilihat. Data Kompas itu merujuk pada tentara yang sudah bekerja selama 15 tahun. Sementara yang baru masuk, tentu tidak sebesar itu.

Jumlah nominal yang tidak terlalu besar itulah yang bisa jadi adalah alasan utama segelintir personil TNI melakukan “pekerjaan” lain dengan memanfaatkan seragamnya itu.

Siapa yang salah? Jelas tidak bisa menyudutkan salah satu pihak. Bagaimanapun, kesejahteraan TNI amat bergantung dengan kondisi makro Indonesia. Termasuk kebijakan dari Presiden dan DPR, menyangkut APBN.

Namun, perubahan sikap tetaplah yang utama. Saya jadi teringat kata-kata bijak dari Anthony De Mello di bukunya “One Minute Wisdom”. Dia menulis, “It is easier to protect your feet with slippers than to carpet the whole of the earth.”

Bukankah lebih mudah memakaikan sepatu pada kaki kita kala berjalan di tempat yang kotor dibandingkan membersihkan dan menggelar karpet di tempat kotor tersebut itu?

Begitu juga terkait dengan sikap sebagian personil TNI itu. Lebih baik perubahan berawal dari diri mereka. Kenalilah tugas, fungsi, dan peran mereka bagi masyarakat dan di negara ini. Cukup dengan menyadari kemudian menerapkan dalam kehidupan bekerja, mereka sudah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Semoga, di ulang tahun ke-65 ini, TNI menjadi semakin bersih dan menjaga harga dirinya. Dirgahayu, Tentara Nasional Indonesia!

Jakarta, 5 Oktober 2010

About Kang Jalu

Just call me Kang Jalu... Follow me on Twitter @kangjalu
This entry was posted in harewos. Bookmark the permalink.

Leave a Reply