Kisah Anak Kecil di Antara Kericuhan Penonton

Setelah absen lama, akhirnya kesempatan mengunjungi Stadion Siliwangi kembali datang pada 23 Januari 2011. Berbeda dengan tugas-tugas sebelumnya, kali ini saya tidak berada di pinggir lapangan untuk mengambil gambar pertandingan. Melainkan berada di tribun media, menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan.

Berbicara soal tribun media, di Siliwangi begitu sesak. Bukan lantaran media peliput yang banyak. Melainkan sudah bercampur dengan masyarakat umum lantaran tak ada filter khusus untuk yang duduk di bangku-bangku tersebut. Misalkan, harus menunjukkan ID Pers atau akreditasi resmi dari panpel.

Jadinya, Tribun Media yang sudah kecil, menjadi penuh sesak. Beberapa rekan media malah tak kebagian kursi sehingga kadang harus berbagi dengan rekannya atau duduk di anak tangga.

Lantaran tak memiliki nomor kursi seperti halnya di bagian Tribun VIP lain, banyak penonton “titipan” di tribun media. Andai duduk di bagian lain Tribun VIP, mereka tentu akan diusir andai sang pemilik nomor kursi datang.

Dari pengamatan saya, sebagian besar adalah keluarga dari staf pengamanan yang bertugas, baik polisi maupun tentara. Itu terlihat dari seorang berseragam tentara yang menyerahkan uang Rp10 ribu kepada anak kecil di samping saya, yang tidak kebagian kursi sehingga duduk di anak tangga. “Ini kalau nanti kamu mau jajan,” bilang tentara berpangkat Kopral Satu itu.

Penonton “kategori” seperti itu bukan hanya satu. Di belakang saya, ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dengan tiga orang anak, yang kemudian diketahui merupakan keluarga dari salah satu polisi yang bertugas mengawal laga Persib Bandung vs Arema Indonesia.

Mengingat ini adalah laga kandang pertama Persib sejak libur lantaran persiapan Piala AFF 2010, wajar apabila Stadion Siliwangi penuh sesak. Bahkan, sebagian bobotoh yang tidak memiliki tiket, sempat mencoba menerobos masuk sebelum kembali digiring keluar oleh pihak keamanan.

Kembali ke soal cerita di Tribun VIP. Saya cukup senang dengan banyaknya orang tua membawa anak untuk nonton langsung ke stadion. Termasuk para penonton “titipan” di Tribun Media. Bagaimanapun, mereka telah menanamkan kecintaan kepada sepak bola, terutama kepada tim kebanggaan daerahnya, sedini mungkin.

Sebelum pertandingan, saya melihat seorang bapak dengan anak lelakinya. Sang bapak menuntun sang anak menuju kursi dengan nomor tiket sesuai dengan yang dimilikinya. “Jangan di situ. Kursi kita yang ini,” kata sang bapak. Sebuah pendidikan kedisiplinan menurut saya.

Di satu sisi, saya cukup senang dan bangga dengan fenomena tersebut. Dasar kecintaan sepak bola sudah ditanamkan sedari kecil.

Tapi di sisi lain, ada sikap khawatir dengan kehadiran anak-anak kecil itu di stadion. Rasa khawatir yang timbul akibat citra suporter sepak bola di Indonesia, yang rata-rata belum dewasa. Cacian dan hujatan masih sering terjadi. Kata-kata yang tak seharusnya didengar oleh anak di bawah umur.

Benar saja. Kekhawatiran saya itu benar-benar terjadi. Bahkan dengan skala yang lebih besar.

Sepanjang pertandingan, cacian, makian, dan kata-kata kasar sering terdengar. Buntut dari kekecewaan mereka terhadap kondisi di lapangan. Khususnya wasit Najamudin Aspiran yang dianggap tak becus memimpin pertandingan.

Efek subliminal pun tercipta. Sebagian anak-anak kecil yang dalam hatinya (mungkin) belum mengerti makna kebencian dalam lingkup sepak bola nasional, ikut-ikutan berteriak. Terutama kepada wasit.

Puncaknya, terjadi pada menit ke-66. Berawal dari pelanggaran M. Ridhuan kepada Wildansyah, wasit yang terkesan tak tegas dalam mengambil putusan, suporter yang ada di Stadion Siliwangi langsung bereaksi. Lemparan-lemparan botol ke dalam lapangan terjadi. Beberapa suporter juga melompati pagar pembatas dan menyeruak masuk ke stadion.

Pihak keamanan, terutama polisi, langsung bereaksi. Mereka langsung menghambur ke lapangan untuk mengamankan situasi. Ketika Tribun Utara jebol, para polisi langsung mencoba mengejar para suporter yang dianggap mengacaukannya.

Para polisi yang coba mengamankan wasit Najamudin Aspiran lantaran diburu para suporter yang kecewa hingga ke lorong ganti pemain. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Situasi mulai tak terkendali. Pablo Frances yang diduga mencoba membela suporter, beralih menjadi sasaran polisi. Striker Persib itu dikejar hingga tepi lapangan oleh para polisi yang tampak marah.

Bak efek domino, kemarahan polisi kepada Frances dibalas para suporter. Kesal pemain kesayangannya diperlakukan demikian, mereka membalas dengan melemparkan mercon ke lapangan. Sasaran tembaknya jelas, kerumunan polisi. Para polisi pun mencoba menghindarinya dengan bergerak menjauh atau berlindung di balik tameng.

Pada saat itu, terdengar sebuah kalimat yang membuat saya cukup terhenyak dan menimbulkan rasa iba. Kata dari seorang anak kecil yang duduk di belakang saya.

“Bu, ayah mana? Kasih tahu ayah, Bu! Suruh ayah pulang,” pinta seorang anak yang ditaksir berusia 10 tahun itu. “Itu ayah bukan, Bu?” lanjut sang anak sambil menjulurkan lengan, melewati pundak saya, dan menunjuk ke sebuah titik di arah timur laut.

Dari omongan dan telunjuknya, bisa diketahui siapa ayah dari anak yang duduk di belakang saya. Seorang polisi yang bertugas mengawal jalannya pertandingan.

Saya pun menoleh ke belakang. Sang ibu mencoba menenangkan anak sulungnya yang tengah khawatir. Sementara, dia pun mencoba menenangkan dua anaknya yang lain. Salah satunya, yang paling kecil, sudah tertidur di pangkuannya.

Pada saat itulah, rasa kecewa yang timbul di hati saya, menjadi lebih beragam. Pertama, kepada wasit yang tak tegas memimpin pertandingan. Banyak pelanggaran keras yang seharusnya berbuah kartu, malah didiamkan.

Kedua, kepada suporter. Suporter tak kunjung menunjukkan kedewasaan sikap dalam memberikan dukungan kepada tim kesayangannya.

Terakhir, kekecewaan juga dialamatkan kepada pihak keamanan. Memang, di satu sisi, mereka hanya bertugas sesuai amanat yang dibebankan. Tapi, sikap mereka yang mudah tersulut ketika Frances mencoba melerai, juga bukan sebuah contoh yang baik dari aparatur negara.

Tak heran apabila usai pertandingan, para polisi diingatkan oleh atasannya. “Memang, ada korban dari rekan-rekan kita pada keributan tadi. Tapi, kita sebagai pihak keamanan dituntut untuk bersikap dewasa, mengingat banyak dari para suporter adalah anak-anak,” jelas inspektur upacara pada apel polisi, usai pertandingan.

(Lho, kok enggak ada kekecewaan kepada PSSI? Ehm… soal kecewa kepada lembaga otoritas tertinggi itu, bukankah sudah menjadi rahasia umum di kalangan pencinta sepak bola tanah air? Hehehe…)

Dari kekecewaan yang terjadi, saya coba menyorot dari sisi suporter. Saya cukup yakin, kejadian di Stadion Siliwangi barulah satu contoh kasus. Di laga lain dan tempat berbeda di negeri ini, ketidakdewasaan suporter masih saja terjadi. Mungkin dengan cara dan sikap berbeda.

Sebagai suporter, kita terang-terangan menyerukan reformasi di tubuh PSSI. Tapi, apakah suara itu akan didengar? Bagaimana mau didengar jika suporter sendiri tidak mau mengubah sikapnya? Alih-alih didengar, mereka justru semakin dianggap sebelah mata oleh para pengurus otoritas tertinggi di negeri ini. Kita tentu tak mau segala perjuangan menjadi percuma.

Terlepas dari sikap kepada PSSI, suporter juga harus memikirkan dampak panjang dari ketidakdewasaan mereka dalam mendukung tim kesayangannya. Ingat, penonton yang hadir di stadion tidak semuanya sudah dewasa. Banyak di antaranya adalah anak-anak kecil.

Bagaimana mau menciptakan generasi penerus yang memandang positif terhadap sepak bola jika telinga anak-anak kecil yang datang ke stadion disesaki kata-kata kasar berisi cacian dan hujatan? Itulah contoh yang ingin diberikan kita kepada generasi penerus?

Kita tentu tidak bisa menyalahkan orang tua yang membawa anaknya nonton langsung ke stadion. Bagaiamanapun, sepak bola adalah olahraga rakyat. Setiap orang berhak untuk datang dan menyaksikannya.

Setiap orang pun bebas menyuarakan dukungannya. Perlu dicatat, DUKUNGAN. Bukan cacian atau hujatan yang tak hanya menunjukkan ketidakdewasaan sikap mereka. Pun mewariskan budaya yang buruk kepada suporter-suporter cilik, yang sejatinya datang ke stadion untuk merasakan kebanggaan menjadi bagian dari tim kesayangannya.

Ayolah suporter Indonesia, bersikaplah semakin dewasa! Marilah kita jadikan suporter sebagai salah satu penjaga “lurusnya” jalur sepak bola negeri ini. Bukan sebagai bahan cerita lantaran sikap negatif yang ditunjukkan.

Marilah kita menjadi suporter yang lebih baik (lagi). “Let’s be better” jangan jadi cuma slogan. Tunjukkanlah jika, “We’re a good supporters.  Wariskanlah sikap-sikap positif kepada para suporter cilik, demi kemajuan sepak bola nasional di masa yang akan datang. (Kalimat terakhir sok bijak :p)

Saya pun teringat anak seorang polisi yang duduk di belakang saya. Sudah berapa banyak kata-kata kasar yang diserapnya selama pertandingan. Nah, andai pada akhir laga mengetahui ayahnya menjadi salah satu korban dari lemparan mercon penonton, bisa jadi dia akan kehilangan minatnya terhadap sepak bola negeri ini.

Itu baru satu orang anak kecil. Di stadion, banyak pula anak kecil-anak kecil lain yang menonton. Sikap traumatis mungkin saja muncullantaran melihat kericuhan yang terjadi. Atau sebaliknya, justru sikap destruktif-lah yang muncul.

Tentunya, kita semua tak mau menjejali para generasi penerus itu dengan kata-kata kasar atau tindakan-tindakan anarkis. Jika sejak kecil saja sudah “diajari” demikian, bagaimana sikap mereka ketika sudah dewasa nanti?

Bagaimana dengan soal wasit dan pihak keamanan yang bertindak represif? Mengutip sepenggal bait lagu “Manusia Setengah Dewa” karya Iwan Fals, “Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu. Peraturan yang sehat, yang kami mau.” Biarlah otoritas dari masing-masing lembaga yang mengurusnya.

About Kang Jalu

Just call me Kang Jalu... Follow me on Twitter @kangjalu
This entry was posted in menbal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply