Semua Itu Bermula dari Mimpi

Pada pertengahan Maret lalu, ada sebuah mention yang saya terima dari teman di Twitter. Dia menanyakan, “Kang, boleh cerita soal perjalanan hidup hingga menjadi jurnalis?”

Sebuah pertanyaan yang mudah dijawab, tapi cukup sukar untuk diterangkan dengan kata-kata. Namun melalui media ini, akan saya coba bahas jejak langkah saya sehingga bisa menjadi jurnalis. Ketika saya menulis ini, saya hampir genap bekerja menjadi wartawan selama 8 tahun.

Cerita bermula dari kecintaan saya terhadap sepak bola. Final Perserikatan 1985 dan Piala Dunia 1986 menjadi momen pertama saya mengenal sepak bola dalam dan luar negeri.

Sejak saat itu, saya selalu intens mengikuti berita sepak bola. Setiap berita sepak bola, baik di tabloid olahraga atau koran harian, akan saya lahap. Tidak hanya berita dari liga-liga utama seperti kompetisi Galatama, Perserikatan, atau Liga Champions. Pun kompetisi amatir seperti kompetisi internal Persib Bandung maupun Galakarya.

Setelah pada 1986 hanya bisa mengenal sedikit, baru pada 1990 saya bisa mengikuti dengan rajin perkembangan Piala Dunia. Siaran pertandingan Italy 1990 tak pernah saya lewatkan. Jika tak bisa menonton, saya takkan ragu untuk membeli koran sore hari untuk bisa lebih cepat mengetahui hasil pertandingan semalam.

Pada saat itulah, saya punya mimpi sederhana. “Tampaknya enak menjadi wartawan olahraga. Bisa meliput Piala Dunia,” gumam saya saat itu.

Mimpi sederhana itu bisa jadi hanyalah salah satu dari cita-cita yang pernah saya lontarkan ketika ditanya oleh orang lain saat masih kecil. Karenanya, meski tetap menggilai sepak bola – untuk dibaca, impian menjadi wartawan hanya menjadi salah satu koleksi dari rak mimpi yang ada di pikiran saya.

Hal itu terlihat dari proses pemilihan jurusan. Di SMA, saya lebih memilih jurusan eksakta dibandingkan ilmu sosial. Ketika kuliah, saya malah ikut UMPTN lagi meski sudah diterima di Fikom Unpad yang salah satu jurusannya adalah ilmu jurnalistik.

“Toh, kuliah hanyalah untuk membentuk pola pikir. Bukan berarti saat kerja nanti akan sesuai bidang yang diambil,” ucap saya tanpa merujuk langsung pada impian sederhana masa kecil saya. Akhirnya, saya lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi.

Tuhan Mahamengetahui. Ketika saya gagal pada suatu tes kerja – yang mungkin membuat saya murung, ada jalan lain yang lebih dibuka. Jalan menuju mimpi masa kecil saya yang terbilang sederhana. Menjadi jurnalis sepak bola. Per 1 April 2004, saya resmi tercatat sebagai reporter Tabloid SOCCER.

Tak butuh waktu lama buat saya untuk menyempurnakan mimpi masa kecil. Dua tahun berselang, saya mendapatkan kabar gembira dari pimpinan redaksi. “Kamu berangkat ke Jerman untuk meliput Piala Dunia,” ungkapnya saat itu.

Saya seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin saya yang saat itu terbilang junior, bisa diberi kepercayaan yang demikian besar. Tuhan Mahamengetahui.

Kecintaan saya terhadap sepak bola di masa kecil telah membuat saya meniti jalan ini. Ketika ditanya oleh teman soal kemampuan saya menulis, saya pun tak bisa menjawab dengan detail. Saya cuma mengatakan kepadanya, “Kalau kamu mau bicara, kamu harus mendengar. Jika kamu mau bisa menulis, kamu harus mau membaca.”

Bekerja di bidang yang dicintai memang memberikan keuntungan. Kita akan punya energi lebih untuk mengerjakannya. Itulah yang saya lakukan. Alhamdulillah, perusahaan tempat saya bekerja bisa mengapresiasinya.

Kemampuan menyelesaikan tulisan dalam waktu cepat menjadi competitive advantage saya. Itu pun yang diakui para pimpinan saya. Karenanya, tak butuh waktu lama buat saya untuk meyakinkan mereka bahwa, “Saya pantas dan sangat ingin bekerja menjadi wartawan sepak bola.”

Setelah menjadi wartawan, memang ada pasang surut dalam motivasi bekerja. Kendati bekerja di bidang yang dicintai namun statusnya berubah menjadi kewajiban, tentu tidaklah terlalu menyenangkan. Demotivasi mungkin saja terjadi. Hal itu pun pernah saya alami.

Usai Piala Dunia 2006, saya sempat bertanya pada diri sendiri. “Kamu ‘kan sudah memenuhi impian masa kecil kamu. Lalu, apa lagi yang kamu mau?”

Lalu, bagaimana cara saya untuk mengembalikan motivasi bekerja? Bikinlah tantangan baru!

Pada 2007, saya menantang diri saya untuk bisa menjadi komentator sepak bola. Alhamdulillah, itu bisa terpenuhi.

Memasuki 2008, tantangan baru lain hadir di hadapan saya. Saya dipercaya menjadi Digital & Online Editor DuniaSoccer. Sebuah bidang baru dan saya sangat tertantang untuk membuat DuniaSoccer berkembang. Perlahan tapi pasti, performa DuniaSoccer terus berkembang. Pada 2011, kerja keras kru DuniaSoccer akhirnya terbayar. Traffic visitor mulai stabil dan memenuhi target. Saya pun mendapatkan apresiasi dari perusahaan.

Memasuki 2012, tentu ada tantangan baru lagi yang saya hadapi. Membuat tantangan-tantangan baru dalam pekerjaan sangatlah dibutuhkan. Selain untuk menjaga motivasi dalam bekerja, pun mencari dan menggapai mimpi yang baru.

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” (The Alchemist by Paulo Coelho)

About Kang Jalu

Just call me Kang Jalu... Follow me on Twitter @kangjalu
This entry was posted in harewos. Bookmark the permalink.

Leave a Reply